Selasa, 04 Mei 2021

Panggil Aku Rupiah

Aku bukan hanya koleksi atau sekedar ilusi
Aku berisi 75 ribu mimpi dan 75 juta kreasi
Amanah arwah pendahulu negri
Bagi kemerdekaan Ibu Pertiwi yang sejati

Aku bukanlah sekedar materi atau sumber iri dengki
Bukan pula kambing hitam pengkhianat yang suka korupsi
Tapi karunia Ilahi untuk berdikari
Mewujudkan harapan gemah ripah, loh jinawi

Bernyanyi dan menarilah bersamaku
Bersatu dalam cipta, kerja dan karya
Mendatangkan surga di bumi Indonesia
Mewariskan pusaka tanpa batas waktu
Mercusuar dunia sepanjang masa

Aku tetesan embun pelepas dahaga
Harapan bagi setiap insan yang berjuang
Triliunan keajaiban bagi yang terus melangkah
Rasa syukur berlimpah atas anugerah Maha Kuasa

Gunakan aku hingga ujung dunia
Kibarkan merah putih hingga luar angkasa
Masyurkanlah dengan segala upaya
Sampai seluruh semesta mengenal namaku
Panggil aku  Rupiah 

(Diikutsertakan dalam lomba puisi Bank Indonesia Purwokerto tahun 2020)

Jumat, 12 Februari 2021

Berdamai Dengan Keadaan

Pandemi Covid 19 merubah banyak hal dalam kehidupan dunia. Setiap kita terkena dampaknya. Pilihannya kita berdamai dengan keadaan ini atau dihantui keresahan yg tidak ada habisnya. Keresahan yang sama juga saya alami. Nilai nilai yang dahulu saya yakini mengalami transformasi. Nilai yg paling signifikan adalah cara pandang saya tentang uang. Sebelumnya saya meyakini jika terlalu melihat segala sesuatunya hanya sekedar mendapatkan uang maka saya akan diperbudak oleh uang. Namun disituasi sekarang, melihat realitas yg terjadi di sekitar kita ternyata pengaruh uang cukup besar. Perbedaan budaya, zaman dan pola pikir masyarakat menempatkan uang sebagai hal mendasar untuk sekedar bertahan hidup. Kenapa demikian? Dahulu refleksi saya tentang kebutuhan dasar manusia adalah sandang, pangan,papan, kehormatan, aktualisasi diri berdasarkan pikiran mashlow secara leterlejk hanya berpisah di perspektif ideal. Tapi untuk saat ini ternyata semua itu untuk memperolehnya memerlukan uang. Kondisi riil disituasi sekarang saat sakit saja, mana ada rumah sakit yg mau merawat kita secara gratis? Bahkan dengan BPJS saja ayah saya harus mengantri berbulan bulan untuk sekedar endoskopi. Lain halnya kalau punya uang, kita bisa membuat asuransi yg sekali menaruh kartu layanan cepat bisa kita peroleh. Demikian juga dengan makanan. Meskipun ada bantuan pemerintah, apakah itu bisa mencover kita untuk hidup selama sebulan apabila kita tidak ada pemasukan lainnya?Jika tidak maka pilihan nya kita harus mengatur pola makan dan merubah gaya hidup kita. Paling menyedihkan apabila kondisi ekonomi tersebut mempengaruhi stabilitas dan keharmonisan keluarga. Sehingga kita juga dalam kondisi tidak stabil secara emosi dan mental perlu menjaga kestabilan keluarga. Disisi lain karena uang itu penting kita akhirnya melihat sumber daya apa yg kita punya untuk kita maksimalkan. Misalnya selama ini kita yg tergantung pada pekerjaan yg diberikan kantor mulai berpikir untuk memberdayakan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan/keahlian untuk mencari tambahan uang. Apalagi jika kita kehilangan pekerjaan. Kita akhirnya sadar untuk melihat kekurangan kita selama ini dan mulai keluar dari zona nyaman yg ternyata selama ini membuat kita tertidur. Situasi genting inilah yg mendorong kita untuk berjuang dan berusaha. Kemandirian pun muncul untuk mulai mencoba apapun untuk sekedar bertahan. Di sisi lain kita juga dibayang bayangi ancaman yg mengerikan dan sekaligus menyedihkan apabila sampai makan dan sekedar berobat saja kita tidak sanggup membayar. Itulah realitas zaman ini. Mau ga mau kita dituntut untuk kreatif, inovatif dan bs memprediksi resiko sekaligus mengantisipasinya dalam waktu bersamaan. Inilah keadaan yg kita dituntut untuk mendamaikannya. Kita tidak lagi terjebak dalam pusaran salah menyalahkan ntah itu covid, pemerintah,konspirasi, mafia dll. Jika kita sudah sadar dan akui ya itu salah kita yg ga mau berusaha maka kita dapat bergerak untuk mencari solusinya. Selain itu kita dapat mendamaikan diri kita dengan melihat kepada Tuhan karena Dialah sumber kedamaian sejati. Jika engkau lihat keatas maka engkau akan melihat mereka yg seolah berlimpah harta dan beruntung tapi punya kesusahan sendiri. Jika kita membayangkan kehidupan mereka yang ada kita akan iri, susah sendiri karena terlalu banyak menghayal haha.. Begitu juga kalau kita lihat kesamping, kita juga akan melihat gambaran diri kita yang sama sama berjuang untuk bertahan hidup. Apalagi kalau kita melihat kebawah, kita akan merasa iba sekaligus sedih apabila ga bisa membantu. Empati memang adalah solusi apabila kita dalam posisi bisa membantu. Tp jika bantuan yg diberikan tdk menjawab kebutuhan dasar mereka, paling mungkin kita memberi semangat atau doa. Sisanya mereka tetap berjuang dengan kesusahan mereka. Disini poinnya bukan nya membangun ketidakpedulian kepada sesama. Tetapi di posisi zaman ini akhirnya kita dituntut untuk peduli pada diri sendiri dan keluarga dimana kita bernaung. Bagi saya kondisi ini menimbulkan insight baru dimana saya menemui potensi lain yg bs saya kembangkan. Bahkan potensi itu menyadarkan saya bahwa wadah dimana selama ini merasa sudah maksimal ternyata bukan rumah yg tepat buat hidup saya. Mungkin masing masing pribadi memiliki insight yg berbeda di era covid 19 ini. Yg jelas, kalau kita ingin berdamai dengan keadaan sekarang, mulailah berdamai dengan dirimu sendiri. Tanyakan pada dirimu apa yang bisa dilakukan untuk keluar dari persoalan ini?bagaimana cara melakukannya?Apa yg bisa membuatku bergairah meraihnya?setelah mampu berdamai dengan semua pertanyaan yg meresahkanmu, berjalanlah dan berjuang dalam damai. Niscaya banyak jalan yg akan terbuka apalagi kalau kita mengandalkan Tuhan. Jika Tuhan berkehendak kita masih hidup berarti kehidupan kita pasti akan dicukupkan oleh Tuhan. Jika lebih dari cukup ataupun berlimpah, jangan lupa bagikan itu untuk kehidupan orang lain. Untuk saya saat ini bertahan hidup dulu dan bangkit hehe..

Refleksi:
Keadaan sulit, susah, sedih terkadang berasal dari situasi atau sesuatu di luar kita. Tapi kendali semua itu ada pada diri kita. Kitalah yg memilih, memilah dan mengerjakan bagian yg masih dalam kendali kita. Dengan berlaku demikian maka kita menetralisir semua itu dengan menciptakan kedamaian dalam diri kita. Damai itu bisa tercipta tidak hanya kalau uang sudah diperoleh dan bisa beli segalanya, tapi diawali dengan bersyukur dan memaksimalkan apa yg ada untuk menciptakan syukur yg lain. Jika pikiran, hati dan langkah kita tidak bisa kita damaikan maka keadaan itulah yg akan membuatmu kehilangan hidup. Itulah ending dari damaimu yaitu Rest In Peace hahaha... Salam damai kawan... Mari kita berdamai dengan diri sendiri biar semuanya damai.

Rabu, 10 Februari 2021

Jalan Baru

Aku tau pada suatu saat akan tiba pada suatu perhentian. Saat dimana aku merenungkan kembali sebuah perjalanan. Saat dimana melihat kembali kedalam diri. Mencoba memahami apa yg telah terjadi. Banyak rasa terungkap. Semuanya begitu indah meskipun berbeda makna ketika masanya. Berubah pula rasanya ketika mengenangnya. Begitulah hidup yg mengalir. Kita tidak dapat memprediksi apa yg akan terjadi secara tetap. Persiapan demi persiapan yg kita buat hanyalah bagian dari upaya untuk memahami seberapa deras dan kemana muara dari aliran itu. Tapi siapa tau ketika sampai muara kita bertemu samudera luas yang kita tidak tau berapa lama lagi waktu yg diperlukan untuk menjelajahinya. Satu hal yang pasti rasa yang kita rasakan sebelumnya mungkin akan terulang. Bahkan mungkin saja ada rasa baru yang lebih ajaib, gaib dan mengagumkan yang akan kita temui. Harapanku bertemu rasa Tuhan yang baru disana. Itulah satu satunya alasan yang bisa kupercaya dalam hidup. BersamaNya selalu baru dan setiap perjalanan selalu menegangkan sekaligus menyenangkan. Begitu sampai ending selalu ada awal yang baru lagi. Inilah awal yang baru buatku. Aku akan memulainya. Terimakasih masa laluku. Engkau telah membuatku menangis dan tertawa sepuasnya. Sekarang dengan tersenyum kutatap samudera itu. Wow.. Warnanya biru.. Keren total.. Diujung kulihat ada pelangi. Penasaran dengan ujung nya lagi. Akhirnya kuputuskan untuk mulai melangkah untuk merasakan sensasi barunya.. Hahaha..

Refleksi: sebuah perjalanan abadi tidak akan selesai di sebuah perhentian untuk menuju pada perjalanan baru yg tiada henti. Hayoo ada yg mau ikut ga.. Siapa tau kita bertemu Zeus disana wkwkwkwk.. Teruslah berjalan kawan. Pengembara sejati tidak akan bosan mengulang langkah baru karena dia tau masih banyak yg perlu dia ketahui dalam hidup ini. Disitulah nikmatnya sebuah perjalanan.. Terima kasih untuk semua yg kutemui sepanjang perjalananku. Semoga kita bertemu lagi di persimpangan di depan sana. Saatnya untuk nyemplung lagi wkwkwkw..

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri