Akhirnya aku mendapatkan momentum bagiku untuk menuliskan ringkasan catatanku terkait apa yang terjadi saat COVID hingga hari ini sebagai kesaksianku. Di awal Agustus 2026 ini aku berharap segala sesuatu yang perlu aku sampaikan sudah aku sampaikan semua dalam bentuk tulisan berseri selama bulan Agustus ini. Sehingga aku tidak perlu khawatir lagi ada yang terlupakan dari kejadian kejadian sebelumnya karena sudah tercatat. Selain itu aku juga tidak perlu sering sering flash back untuk mengingat sesuatu karena aku sudah mencatatkannya. Intinya selama aku tidak melupakannya dan bisa menyampaikan maka aku diizinkan oleh Tuhan untuk menyampaikan hal itu. Setidaknya bagi kalian yang mencari tau cerita cerita pribadi yang terkait kejadian yang terjadi saat COVID ada tambahan referensi dariku di versi yang berbeda. Sehingga kalian dapat mengklasifikasikan mana yang termasuk ilusi dan delusi serta yang nyata. Sebagai pernyataan reflektif bagi kalian. Kesaksian ini ditulis oleh seorang yang didiagnosa kesehatan mentalnya mengalami Schizofernia oleh rumah sakit dan saat ini keadaan kesehatan mentalnya semakin waras setelah mengikhlaskan segalanya dan belajar memulai kehidupan dari nol lagi. Walaupun sebenarnya aku merasa waras dan proses aku dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa benar benar aneh. Tapi karena ikhlas dan membuka lembaran baru. Segala hal itu akan aku ceritakan juga di tulisanku. Dalam posisi seperti ini aku masih bersyukur kepada Tuhan Yesus yang menyelamatkanku, melindungiku, menolongku bahkan memberikan aku banyak keajaiban di era COVID hingga hari ini. Meskipun aku terpuruk tapi aku masih diberi kesempatan untuk bangkit dan mengembalikan ritme ku lagi. Meskipun rasa dan kenyataan yang berbeda tapi aku yakin karena aku masih tetap hidup pasti ada maksud dan rencana Tuhan atas hidupku dan keberadaanku. Semua pengalamanku itu sudah saatnya aku ceritakan dalam satu alur. Supaya kalian yang mengikuti tulisanku bisa memahami apa yang terjadi padaku saat itu hingga saat ini. Jujur saja aku sebenarnya masih bingung menyebut fase ini sebagai fase apa karena segala yang aku alami nyata itu semua berkaitan dengan sangkakala yang sudah ditiup dan yang diketahui minimal sangkakala kedua. Semoga aku bisa mengingat semua rangkaian peristiwa yang aku lihat, dengar, dan rasakan dan mencatatkan disini. Minimal memori pentingnyan bisa aku tuliskan agar kalian yang mengikuti tulisanku bisa mendapatkan versi cerita yang lumayan lengkap dari apa yang aku alami.
Aku ingat sekali bahwa sebelumnya selain karunia sebagai kuda ke4, akupun juga diberikan karunia Penjaga Waktu dan Penjaga Semesta. Aku juga diberikan karunia keimamam yang difase terakhir tingkatannya adalah keimamam semesta yaitu tetap berkaitan dengan nama keimaman Melkisedek yang aku terima. Di situasi terkemudian ini aku tidak tau tugasku terkait itu apa. Tapi yang jelas kalau berkaitan waktu maka berkaitan dengan masa, tempo bahkan zaman. Artinya selama Blog ini masih eksis aku akan terus menulis apa yang aku alami bersama Tuhan. Tapi dalam catatan Pinggirku ini aku akan menceritakan dahulu apa yang aku alami sebelumnya hingga saat ini. Sehingga kedepannya aku tidak perlu lagi menuliskannya tentang masa lalu lagi yang berkaitan dengan COVID dan keadaanku. Aku bisa lebih fokus menuliskan perjalanan terkemudianku. Agar kalian yang membacanya tidak perlu lagi dipusingkan dengan teknik menulisku yang aku sengaja tulis dengan terpotong dan terpisah sebagai teknikku memberikan pesan tersirat bagi mereka yang menyebabkan COVID ini dan yang memantauku. Tapi aku akan tuliskan secara kronologis sebagai pengingat buatku dan siapapun yang tertarik mengetahuinya. Bahkan bukan tidak mungkin kalau Blogspot bisa panjang umur. Anakkupun bisa membaca tulisan tulisanku. Aku bersaksi aku masih bisa selamat hingga saat ini semua hanya kasih karunia Tuhan Yesus. Sebab keadaan yang aku alami sebelumnya sebenarnya sangat menyeramkan. Banyak hal hal yang tidak masuk akal yang terjadi. Sampai saat ini pun kalau aku renungkan segala kebaikan Tuhan. Harusnya aku sekarang sudah mati dan tidak ada di dunia ini. Aku sebenarnya penasaran kenapa masih hidup. Tapi aku yakin kehidupanku adalah kesaksianku. Sebelum lupa aku catatkan kembali kesaksianku sebagai refleksi ku dan siapa tau bermanfaat buat kalian untuk mencari pembanding apa yang sebenarnya terjadi di era COVID.
Hal penting yang perlu aku sampaikan pada anakku agar dia paham jika membaca tulisan ini di masa yang akan datang. Sebenarnya apa yang terjadi padaku di era COVID sebelumnya selain hal hal yang bisa di nalar ada banyak yang sebenarnya bernuansa magis. Namun hal itu ga aku catatkan semuanya. Semoga di tulisan singkat ini aku akan coba menceritakan apa yang terjadi padaku. Sebab aku memang memberi catatan yang sifatnya ga eksploitatif sebelumnya sebagai pancingan buat barisan Dajjal yang bayanganku saat itu sudah eksis. Sehingga aku sengaja membuat catatan untuk mereka Catatan yang berisi jejak dan tanda tanda tersirat sebagai pesan kepada mereka bahwa aku benar benar nantang hahaha.. Seperti Daud menantang Goliath. Itu yang aku lakukan dengan sengaja membuat catatan terkait Covid disaat pandemi itu yang lagi parah parah nya menguasai dunia.. Walaupun ada yang sengaja aku ekspose tapi isinya hanya intisari intisari yang untuk membacanya harus merangkum segala tulisanku di masa itu. Tapi memang sebelum lupa saat ini aku tertarik untuk mencatatatkannya. Apalagi kondisi kewarasanku semakin waras. Di posisi sehari hari aku pun sudah tidak di posisi tidak penting. Hanya menunggu waktu di panggil Tuhan atau menunggu visi baru dari Tuhan sambil menunggu waktu kematianku. Sehingga ada waktu buatku untuk duduk tenang mencatatkannya. Selain itu aku juga menjalani hidup yang sebenarnya tidak terlalu meledak ledak lagi seperti keadaan sebelumnya. Aku menjalani Kehidupan yang seperti angin sepoi Sepoi yang sejuk namun terkadang juga menghembuskan hawa panas yang hanya berkaitan dengan pergumulan hidup biasa. Zona yang tidak terlalu nyaman dan tidak terlalu aman juga. Tapi aku bisa Selonjoran menikmati waktu dan menikmati hal hal yang tidak bisa aku nikmati sebelumnya.
Tulisan ini sebagai pengantar kesaksianku. Sekaligus pengingatan buatku untuk tidak malas menulis. Target ku bulan Agustus ini semuanya tersampaikan semua. Jujur saja secara pribadi aku juga sudah menatap hari esok dengan perspektif menanti hari Tuhan. Impian dunia yang sebelumnya aku inginkan seperti karir, keinginan memiliki sesuatu dan kehidupan yang segala sesuatunya tersedia tidak lagi menjadi impian utama. Kalau bisa dikatakan dalam hati terkecil sudah tidak sabar dan bertanya tanya kapan Tuhan datang dan memulai hari penghakiman. Tapi karena semuanya belum berakhir maka aku juga harus realistis dan terus menjalankan hidup dengan bertanggung jawab. Selain itu sebagai pengingat lainnya bahwa tujuanku menulis ini adalah sebagai referensi buat siapapun yang memerlukan. Selain itu informasi yang aku peroleh bahwa kejadian seperti COVID ini akan terjadi lagi di kemudian hari. Khusus Indonesia sebenarnya yang aku terima bahwa keadaannya mirip seperti ini pernah terjadi pada zaman G30 S PKI. Tapi aku tidak mengerti apakah validitas data nya benar apa tidak. Aku mengetahui itu karena mendapatkannya secara gaib. Bahkan aku mendapatkan tahun berikutnya terkait kejadian seperti ini. Kalau para penganut madzhab konspirasi mengatakan tahun 2030 sebagai great reset. Aku justru mendapatkan beberapa hitungan tahun. Hanya karena aku sudah lupa dan tidak diizinkan mencatatnya saat itu. Maka cara menghitungnya sudah lupa. Saat itu aku dapat hitungan fase menuju itu yaitu 2026, 2028, 2033, 2036, 2039, 2044, 2045, 2050. Sebenarnya hitungan ini hanya berdasar hitungan kalender yang kita ketahui selama ini. Sebab saat itu aku tiba tiba tau hitungan kalender yang berbeda yang berkaitan dengan hitungan kalender saat ini. Sebenarnya sih aku setelah mendapatkan hal itu tetap dalam posisi sadar tidak ada satupun kita bisa mengetahuinya hari Tuhan kecuali Tuhan mengizinkan kita mengetahuinya. Jadi kapanpun hari Tuhan keinginan pribadiku hal itu dipercepat dan aku lekas bertemu Tuhan. Amin. Segera datanglah Ya Tuhan. Kami semua rindu pada Tuhan. Amin.