Rabu, 04 Februari 2026

Pemurnian (sebuah refleksi)

Duhai adinda janganlah takut..Pahamilah setiap tanda..Lihatlah setiap rincian. Engkau akan paham semurni apa sebuah pesan.

Terkesankab engkau adinda? Atau hanya ingin paham rasa apa yang kubagikan. Atau dirimu hanya ingin sekedar mengetahui saja?

Apapun yang kau mau. Nikmatilah setiap sajianku. Apakah rasanya hanya sekedar pertanyaan atau pernyataan bahkan kenyataan?

Jika engkau sadar dan mulai bertanya-tanya. Sebenarnya berapakah takaran kemurnian itu? Bagiku adinda,  kadar emas 50 persen dan 100 persen sama saja.
Prosesnya tetap sama yaitu pemurnian
Perbedaan nya hanya disisi kualitas. Itupun masih tergantung rumus apa yang adinda gunakan. Cara alami, karbitan atau buatan?

Kami berproses menuju 100 persen. Namun jika adinda hanya puas sekedar 50 persen. Janganlah berkecil hati. Jalanilah dengan sukacita.  Masing masing kita memiliki kapasitas. Sesuai panggilan yang kita terima dari Tuhan 

Duhai adinda ketika kami belajar. Memurnikan diri kami. Baik di hadapan Tuhan maupun manusia. Kami tetap sadar kaki kami masih menginjak Bumi. Itulah inti pemurnian kami yang realistis.  Apakah adinda tertarik untuk dimurnikan?

Kalau kami memandang emas bukan hanya sekedar logam mulia..Tapi lebih dalam dari itu. Pemurnian seluruh hakikat diri kita sebagai manusia. Serta segala dimensi yang dihadapinya. Dalam realitas keseharian nya. Sampai esensinya paling tinggi yaitu Kemuliaan Tuhan.

Didikan sebagai pribadi dalam suatu masa. Maupun dalam interaksi dirinya terhadap sesama  serta lingkungannya.
Baik itu dalam dimensi pergaulan, keluarga bahkan sampai negara. Jika adinda paham takaran kemuliaannya.. Maka saat itulah kita memulai proses pemurnian diri kita.

Namun jika adinda sudah sampai dimensi Bumi, Alam dan Semesta. Pemurnian yang kita jalani tentu berbeda dan jauh lebih rawan serta menantang. Apalagi jika dasar pemurniannya bukan Tuhan.

Ingatlah adinda, proses pemurnian bukan untuk kita menjadi sesat.  Namun membawa kita semakin sadar akan keberadaan diri kita. Bahwa semakin kita dimurnikan.Maka semakin berbeda orientasi kita dalam memandang pencapaian. 

Semakin tinggi kemuliaan kita maka semakin rendah kita dihadapkan Kemuliaan Tuhan. Jangan sampai kita tinggi hati karena itu. Apalagi jika pencapaian kita sudah sampai Gedung Tertinggi di dunia. Apalagi sampai setinggi luar angkasa.

Sekarang mulailah bertanya wahai adinda. Kenapa kami menggunakan simbol emas dalam pemurnian kami? Apakah adinda hanya memandang emas itu sebagai logam mulia atau dimensi mulia dengan berbagai tahapan nya. Semurni apakah pemurnian kita dalam memahami itu? Apakah itu sekedar wujud, bentuk, dimensi atau sekedar ukuran waktu?

Hanya saat kita mau mengikuti proses pemurnian lah kita baru tau jawabannya. Itupun tidak sekaligus namun bertahap sesuai kesetiaan kita. Itulah sebabnya kami selalu memurnikan diri kami setiap saat. Sampai disetiap lintasan waktu. Kami tetap menguji diri kami dalam perjalanan menuju kemurnian takaran 100 persen. Sesuai masa dan zaman kami menjalani pemurnian.
 
Suatu Titian Murni adalah perjalanan kami menuju kemuliaan kami. Saat dimana
Kemuliaan Tuhan memancar dari kemuliaan kami. Karena kami sadar apa yang ada dalam diri kami. Hanyalah dititipkan Tuhan kepada kami. Sesuai perjalanannya yang ditanamkan dalam hati dan pikiran kami.

Itulah Pemurnian kami duhai adinda. Jika adinda sudah paham. Maka adinda tidak tertarik lagi dengan pemurnian kami. Adinda sudah mulai masuk dalam perjalanan pemurnian yang membawa adinda dalam dimensi baru sebuah kemuliaan. 

Pemurnian yang murni karena kesadaran adinda untuk menemukan titik tertinggi kemuliaan jati diri seorang manusia. Dalam kesadarannya menjalani kehidupannya melintasi segala dimensi waktu sampai akhir hayatnya di dunia.

Selamat memurnikan perjalanan kita wahai adinda. Sampai jumpa di titik temu akhir pemurnian kita sebagai manusia. Penyatuan kemuliaan kita dengan kemuliaan Tuhan yaitu Hari Termulia Tuhan sepanjang zaman. 

Itupun kalau adinda ada disana dan tidak menganggap remeh proses pemurnian adinda saat mengenal kami. Umat Nya yang sedang dimurnikan dengan kesetiaan sampai akhir. 

Sampai jumpa di Hari Tuhan jika adinda sudah sadar fase pemurnian ini. Tuhan memberkati.



Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri