Minggu, 24 Mei 2026

Mengenai Karunia

Dear Team,
Kalian sudah banyak mendapatkan didikan Tuhan. Setelah menerima panggilan Tuhan, kita satu persatu bertobat dan terus menerus melakukannya sebagai kesaksian pertobatan kita dihadapan Tuhan. Kita semua paham bahwa tidak semuanya benar benar taat dan memilih kembali ke manusia lama mereka. Orang orang tersebut satu persatu keluar dari rombongan terpilih bahkan kalaupun masih bersama sama kita. Mereka menjadi umat biasa dan ada yang diperkenankan untuk dididik Malaikat Gabriel sebagai jalan pertobatan mereka. Kalian tau makna tanda di tengah dahi kalian? Ada dua makna terkait tanda di dahi itu. Tanda pertama biasanya diterima mereka yang baru menerima panggilan dan menjalani nya yaitu tanda dalam naungan Malaikat atas seizin Tuhan. Di fase ini kita benar benar baru merasakan berjalan dijalan Tuhan dengan menjalani panggilannya dengan ditemani malaikat. Di fase ini pertama kalinya kita benar benar melihat, mendengar dan merasakan kuasa Tuhan nyata dan penyertaan Tuhan selalu menemani kita. Selain itu di fase ini kita benar benar belajar taat terhadap waktu dan kehendak Tuhan. Meskipun dalam prosesnya tidak semulus yang kita bayangkan. Kita masih memungkinkan terjatuh. Namun jika hati kita benar benar Tuhan kita lekas bertobat saat diingatkan Tuhan dan terus menerus bertumbuh dalam Tuhan. Proses pembelajaran itu membawa kita dari fase ketaatan menjadi kesetiaan. Sebuah tingkatan ketaatan yang telah melalui berbagai proses. Kita pun mulai mengenal malaikat malaikat yang menemani kita. Kita juga mulai belajar menggunakan karunia kita dan karunia malaikat yang menemani kita dalam menjalani panggilan dari Tuhan. Sampai akhirnya ketaatan kita berubah menjadi kesetiaan kepada Tuhan dan takut untuk berbuat dosa kepada Tuhan.

Fase berikutnya tanda di dahi kita berubah menjadi tanda dalam naungan Tuhan sepenuhnya. Di fase ini kita melewati setiap peristiwa dan keadaan berkaitan panggilan kita dengan kesetiaan yang berulang. Sampai fase tertingginya adalah kesetiaan sampai akhir. Di fase ini kita sudah pasrah sepenuhnya dan menyerahkan hidup dan mati kita pada Tuhan. Kita sudah tidak lagi khawatir apapun. Hanya menunggu kita menemui maut atau kita bertemu Tuhan di hari Tuhan. Selain itu kita juga belajar sepadan dengan Malaikat Malaikat yang menemani kita. Hal ini juga membawa kita semakin sepadan dengan orang orang terpilih lainnya. Di fase ini kita menjadi Keluarga Tuhan yang Sepadan. Kita sepadan dengan orang terpilih di seluruh dunia dan malaikat malaikat yang menemani kita. Penggunaan karunia pun tidak lagi harus ditemani malaikat secara langsung. Namun diiringi oleh Malaikat bahkan ada yang langsung mendapatkan karunia dari Tuhan. Sebenarnya pada tahap ini kita tidak lagi memikirkan hal hal duniawi meskipun kaki kita menapak di Bumi. Tapi kita lebih memilih memikirkan hal hal dari Tuhan yaitu Kehendak dan Waktu Tuhan. Kita semakin menolkan ego kita di hadapan Tuhan. Namun di fase ini kita juga pasti menghadapi berbagai pergumulan juga. Tapi respon kita terhadap pergumulan itu membawa kita semakin pasrah dan dekat kepada Tuhan. Ini yang menjadi kesaksian aku juga kepada kalian. Di fase ini aku masih dijahati di Jakarta oleh mereka yang masih menganggap keadaan ini hanyalah persoalan perang teknologi. Padahal mereka tidak sadar Hari Tuhan sudah mulai dihitung. Aku jadi semakin terbiasa menerima perlakuan tidak adil dari bangsaku sendiri. Hal ini menjadi dasar bagiku di timbangan itu. Pada saat aku menggunakan kuasa yang dipercayakan kepadaku. Aku benar benar siap dan sangat ikhlas bangsaku Indonesia binasa karena kesombongan mereka. Meskipun demikian aku sadar juga ada orang orang Terpilih lainnya di bangsa ini yang terus menerus menjalani panggilannya dengan setia. Di fase yang sama mereka juga belajar ikhlas Indonesia binasa saat penggenapan Firman Tuhan dinyatakan yaitu saat pasak pasak Bumi runtuh dan bintang bintang di langit berjatuhan menimpa Bumi. Bahkan saat segel kutub Selatan dan Kutub Utara dilepas. Mereka mau kabur kemanapun. Murka Tuhan akan mendatangi mereka.

Aku juga perlu mengingatkan bahwa dalam penggunaan karunia kalian. Jangan sampai kalian menggunakannya dengan sembarangan. Sebab hal itu juga akan diperhitungkan. Jangan sampai saat hari Tuhan tiba kalian masuk golongan yang tidak di kenal oleh Tuhan. Sudah banyak pengalaman kita soal ini kan? Orang orang yang sebelumnya bisa menggunakan karunianya jadi kehilangan karunia itu dan menjadi umat biasa. Meskipun ada yang dididik Malaikat Gabriel untuk menjalani pertobatannya. Pasti mereka akan mengalami rasa yang berbeda. Kalau rasa itu tidak membawa mereka pada pertobatan. Maka dengan cepat mereka akan dikeluarkan dari rombongan terpilih. Aku ingatkan kalian dalam penggunaan karunia bahwa Roh itu penurut dan daging itu lemah. Jangan sampai karena kedagingan kalian. Kalian lupa berdoa kepada Tuhan dalam menggunakan karunia kalian. Tulisan ini sebagai pengingat dariku sesuai karunia keimamanku Melkisedek agar kalian jangan sesat karena menerima dan menggunakan karunia itu dengan sembarangan.

Refleksi:
Di akhir zaman banyak orang berseru kepada Tuhan namun mereka dianggap barisan yang tidak dikenal oleh Tuhan. Apakah kita mau seperti itu? Aku harap kalian mulai semakin berhati-hati dan bijaksana menggunakan karunia kalian sesuai panggilan yang kalian terima dari Tuhan.

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri