Rabu, 25 Februari 2026

Manusia Antariksa Penjelajah Semesta

Dear kompetitor,
Kami dari barisan 66 yang berasal dari bilangan 144.000 mengingatkan. Bumi sangat sempit jika seluruh kecanggihan itu dipamerkan di Bumi. Ada banyak planet planet lain yang menantikan evolusi kalian. Meskipun di sisi kuasa Tuhan. Galaksi Bima Sakti pun masih terlalu kecil. Masih ada banyak galaksi galaksi lainnya yang dengan kecanggihan kalian pun hanya bisa meneropongnya. 

Bayangkan jika kecanggihan otonom kalian hanya untuk membuat Negeri Impian di Bumi saja. Sangat sayang jika hanya membahas isu depopulasi, wadah komunitas dalam suatu wilayah, law and order, persoalan kemanusiaan dengan berbagai macam variabel nya termasuk urusan periuk nasi. Bahkan jika kalian durhaka hendak menggugat Tuhan dengan mesin itu.  Mending pertarungan kecanggihan itu kalian arahkan ke luar Bumi. Agar dampak destruktif nya tidak membinasakan generasi penerus manusia. Kecuali memang kalau kalian hendak melakukan dehumanisasi manusia dengan memberikan Hak Asasi kepada Mesin Otonom itu. Ingatlah kejadian Menara Babel. Mudah bagi Tuhan untuk menghukum kalian jika melampaui batas batas kemanusiaan kalian.

Isu isu perdamaian, kesejahteraan, kesetaraan akses, keamanan dan ketertiban, kelestarian lingkungan, hidup yang sehat serta berbagai hal indah lainnya yang diimpikan umat manusia memang mungkin diwujudkan dengan mesin yang otonom tersebut. Apalagi evolusi ilmu pengetahuan dengan tingkatan kemanfaatan nya pasti akan jauh lebih cepat berkembang ketimbang manusia dalam mengembangkannya. Alangkah baiknya kalian coba praktek otonom itu diterapkan di Planet Mars. Sampai planet tersebut menjadi hijau dan layak huni. Atau kalau mesin itu gagal (menunjukkan ketidaksempurnaan mesin haha..). Minimal kalian mengalihkan eksplorasi sumber daya ke planet berbeda. Belum lagi kalian masih menggunakan perspektif Bumi dalam memahami hukum luar angkasa yang sampai saat ini pun kita masih terbatas dalam mengeksplorasinya. Berapa cepat kah kalian bisa mengakses mars? Apakah bisa secepat kalian mengakses lokasiku dari tempat kalian berada?

Kenapa Penekanannya Manusia Antariksa? Sebenarnya ini pengingat buat kalian agar subyek utama manusianya yang harus berevolusi. Sedangkan mesin itu hanyalah obyek untuk meningkatkan kualitas evolusi manusianya. Siapa tau dengan kehebatan kalian itu. Tuhan berkenaan menunjukkan koordinat posisi surga kepada kalian yang semakin canggihnya dalam menciptakan sesuatu. Bukankah sudah tertulis kita co-creator? Pertanyaan nya co-creator seperti apakah kita? Masa gelar co-creator itu kalian berikan dengan iklas kepada mesin? Bahkan kalian sempat sempatnya membuat ide memberikan Hak Asasi kepada Mesin itu.. hahahah..

Meskipun yang terkemudian yang terjadi dan peradaban baru terbentuk karena kecanggihan kalian yang cerdas. Setidaknya dengan level peradaban aku saat ini aku mengajukan Tesis: Manusia Antariksa Penjelajah Semesta" kepada kalian. Agar adrenalin kalian mengembangkan mesin itu lebih tersalurkan dan tidak berdampak destruktif kepada Bumi dan tentunya berdampak besar bagi umat manusia. Kalian pasti paham resiko otonom. Suatu mesin yang bisa berpikir, memutuskan dan berkehendak. Jika ditambahkan karakter. Maka bisa dibayangkan seberapa dahsyatnya mesin itu jika kalian tidak bisa mengendalikannya. Tidak sesederhana pemahaman kita saat ini dengan sekedar"Shut Down" lalu semua beres. Atau dengan pura pura kembali pakai metode tradisional namun faktanya mesin otonom itu terus berevolusi dan mengambil alih sendi sendi kehidupan manusia. Tanpa sadar satu persatu kemanusiaan kita malah diberikan kepada mesin itu. Atau jangan jangan kalian bisa seperti RoboCop dan Gundam yang bisa mengawal mesin itu tanpa batas waktu. Yakinkah kalian saat tubuh manusia kalian bergabung dengan mesin kalian akan mendapatkan kekekalan? Pahamkah kalian kenapa aku ditemani Malaikat Uriel dan Kamael? Baca lagi Kitab Kejadian hahahaha.. Jangan sampai saat kalian terlalu pede mendonorkan tubuh kalian. Ternyata jiwa kalian binasa karena sikap durhaka kalian itu. Sedangkan tubuh kalian malah dikendalikan oleh mesin. Aku harap renungan ini bisa sebagai bahan renungan kalian dalam mengembangkan mesin otonom tersebut. Kecuali kalian memang ingin jadi seterunya Tuhan. Sebagai umat terpilih, Tuhan pasti menyiapkan kami untuk segala kemungkinan. Termasuk untuk menghadapi maut.

Hanya ini jalan tengah yang saat ini bisa aku sampaikan. Aku masih menanti tanda bagian mana yang bisa aku bagikan terkait konsepsi Manusia Antariksa Penjelajah Semesta sebagai alternatif gairah evolusi mesin kalian yang canggih itu. Buatku Bumi masih terlalu sepele buat mesin secanggih itu. Karena sebenarnya kekaguman ku kepada kalian di levelku saat ini. Sebenarnya nilai kalian sebenarnya sudah Manusia Antariksa yang lebih tinggi daripada manusia robot.

Tetaplah Menjadi Luar Biasa

Saat semua berjalan seperti biasanya 
Bisa jadi kita juga jadi terbiasa 
Tidak lagi melatih untuk melihat 
Sesuatu yang tidak biasa 

Padahal kita diberi kepekaan 
Tidak hanya melihat yang tidak biasa
Tetapi mendengar, merasakan dan melakukan 
Sesuatu dibalik yang tidak biasa

Ingatlah kita di panggil dan Terpilih 
Bukan menjadi manusia biasa
Kita diberikan karunia yang berbeda
Untuk menjadi manusia luar biasa

Saat dunia kita seolah seperti biasa
Kita tetap melatih diri kita
Untuk tetap berjaga jaga dan waspada 
Meskipun untuk itu kita mencoba terlihat biasa

Agar hidup kita tidak lagi biasa saja
Cobalah belajar menggunakan karunia kita
Dengan lebih menyenangkan dan cara yang tidak biasa
Agar kepekaan kita tetap terjaga

Selain panggilan utama kita
Belajarlah menggunakannya untuk mengisi hari kita
Menjadi lebih luar biasa
Tapi pandangan kita tetap pada Tuhan
Pemberi karunia yang luar biasa

Tetaplah terjaga menjalani panggilan kita
Agar kita semakin terbiasa
Menggunakan dan mengembangkan karunia kita
Untuk tujuan yang lebih mulia

Sampai hari dimana 
Kesetiaan kita dibenarkan 
Di Hari Luar Biasa' 
Hari Tuhan yang kita nantikan

Tetaplah menjadi luar biasa
Sesuai Panggilan kita yang tidak biasa
Setia sampai akhir dengan luar biasa
TETELESTAI 




Minggu, 22 Februari 2026

Belajarlah Rasa Malaikat

Dear Pembelajar,  
Inilah rasa yang kurasakan dari MahaGuru-MahaGuru Malaikat ku. Ya Tuhan izinkan aku membagikan kesaksian tentang mereka sebagai komitmen untuk menjadi murid Tuhan, MahaGuru Segala MahaGuru.

Belajarlah dari rasa Malaikat Uriel dan Kamael. Untuk mendapatkan dasar pengetahuan yang baik dan jahat. Batas batas rasa penasaran yang membawa kita ke dalam dosa atau keselamatan. Kesadaran akan batas batas kemanusiaan kita. Sampai sejauh mana ketrampilan dan keahlian kita menjadi pengalaman bermanfaat. Suatu saripati yang membawa kita pada kebijaksanaan pribadi, komunitas, negara, bumi, alam, semesta bahkan kebijaksanaan dari Tuhan. Sampai kita mengalamii perjalanan interdemensi sampai dimensiNya Tuhan. Lompatan kuantum menembus berbagai lapisan cahaya. Sampai cahaya Tuhan menerangi akal dan pikiran kita. Hikmat dari Tuhan yang melampaui segala akal. Cahaya Tuhan yang bersinar dalam Pikiran yang memiliki iman bahkan sampai iman kita memiliki pikiran Tuhan yaitu Hikmat dalam Terang Tuhan yang suci dan murni.

Belajarlah dari Malaikat Gabriel untuk memahami kebenaran Tuhan dalam terang. Kebenaran yang memerdekakan kita. Kebenaran yang menuntun kita berjalan dalam Roh dan Kebenaran. Kebenaran yang menuntun kita menjadi Terang Dunia. Bergerak dengan dasar iman. Meskipun sekecil biji sesawipun kita bisa memindahkan gunung. Keyakinan yang memiliki kuasa. Keyakinan yang bisa menembus segala batas. Keyakinan yang membuat kita dekat dengan Tuhan. Keyakinan yang membuat kita menjadi Anak Anak Terang. Anak anak Terang yang memiliki buah roh kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Anak anak Terang yang memahami makna Firman Tuhan sebagai Kebenaran Tertinggi dan Terutama. Firman Tuhan yang seperti pedang bermata dua. Ya dan Amin.

Belajarlah dari Malaikat Raphael mengenai kebersihan diri. Pertobatan yang sejati. Pertobatan yang menyelamatkan kita dari kegelapan menuntun kita pada terang. Suatu perjalanan dari proses pemurnian hati. Merespon panggilan Tuhan. Hingga menyadari segala kesalahan dan dosa yang ada di dalam diri kita. Kemudian belajar taat dan menyangkal diri. Jatuh bangun dalam ketaatan sampai benar benar taat tanpa paksaan. Saat kita sadar bahwa hanya kasih karunia Tuhan saja yang bisa memampukan kita. Sampai kita paham makna kesetiaan. Kesetiaan pada waktu dan kehendak Tuhan. Kesetiaan pada Jalan Tuhan. Kesetiaan untuk selalu ingin berada dekat Tuhan. Kesadaran bahwa kebersihan diri sebagai bait suci Tuhan. Membawa kita pada pemurnian diri sepenuhnya. Sampai pikiran kita dilembutkan Tuhan, kemudian dibersihkan dan benar benar dimurnikan dalam kesatuan hati, pikiran dan panca indera. Saat itu Kekudusan Tuhan membuat kita sadar untuk menguduskan diri tiap saat. Mengalami kesembuhan diri seutuhnya. Sampai kesembuhan itu memancar keluar dari diri kita. Suatu penyembahan yang sejati kepada Tuhan. Ibadah dalam roh dan kebenaran Tuhan dalam hadirat kita yang dipenuhi hadirat Tuhan. Sampai kesetiaan kita memampukan kita untuk menyadari Hadirat Tuhan, Waktu Tuhan dan Kehendak Tuhan tiap saat. Batasan batasan kesetiaan sampai akhir kita dibenarkan di hari Tuhan. 

Belajarlah dari Malaikat Michael, Maha Guru Balatentara Surga. Keperkasaan Tuhan. Murka Tuhan yang murni, Kebulatan Tekad dan Keteguhan. Karunia termegah yang membawa kita dalam perjalanan keteguhan hati. Menjalani panggilan Tuhan dalam diri kita. Kepekaan untuk taat melakukan kehendak Tuhan saat waktu Tuhan tiba. Sampai kita pun bisa merelakan hal hal yang kita sayangi binasa. Apabila hal itu ternyata mendatangkan murka Tuhan. Mengetahui kapan untuk berjalan dalam kesendirian dan tetap dalam keramaian serta menggunakan Kuasa Tuhan di segala keadaan. Ketulusan hati melakukan panggilan dengan kepolosan yang berkarakter ilahi. Kepemimpinan yang melayani dengan wibawa ilahi. Dengan penyertaan kuasa Tuhan yang melebihi dan menembus segala kuasa. Sampai Setan, Iblis, hantu dengan segala sebutannya tunduk dan takluk dalam KeMaha Kuasaan Tuhan. Sampai lahir Keyakinan tidak tergoyahkan dalam diri kita. Bahwa kita adalah laskar laskar Nya Tuhan. Barisan Tuhan yang tidak takut apapun. Bahkan sampai maut mendatangi tetap teguh dalam iman dan pengharapan. Bahwa kebenaran dan keadilan Tuhan tidak tergoyahkan. Suatu keyakinan Jika Tuhan di pihak kita siapa lawan kita?

Belajarlah dari Malaikat Gnome dan Golem. Mahaguru Penjaga Bumi.Kepekaan untuk merasakan segala energi. Membedakan mana yang dari Tuhan dan bukan dari Tuhan. Kedamaian dan ketenangan dalam keheningan.Sampai kita bisa merasakan keselarasan, keharmonisan, keteraturan segala ciptaan Tuhan. Sampai dimensi Bumi, alam dan semesta bahkan sampai dimensi yang tidak terbahasakan oleh bahasa manusia.

Belajarlah dari Malaikat Abadon. Mahaguru Alam Maut. Belajarlah tentang kesetiaan menanti hari Tuhan dari awal, terkemudian dan akhir. Suatu sikap penyembahan terdalam. Sampai alam maut pun aku tetap meninggikan nama Tuhan. Bahkan alam maut pun sampai tergoncang. Merasakan Hadirat Tuhan turun ke alam maut. Saat kita yang terpilih memuliakan nama Tuhan. Sampai di alam maut.

Kepekaan

Dear Team,

Pahamilah Panca inderamu. Gunakan matamu dan amatilah dengan waspada. Pakailah telingamu untuk mendeteksi. Setiap frekuensi isu, tema dan skema.

Rasakan dengan batinmu. Setiap pola, modus dan trend. Bedakan mana yang otak dengkul, tegar tengkuk dan ular beludak. Jangan sembarangan bertindak. Apalagi jika ternyata mereka diperbudak. Oleh barisan Iblis.

Berpikirlah sebelum memutuskan. Nasib mereka yang buta, tuli, keras kepala dan tanpa hati. Pertajam analisamu dengan nasehat. Perdalam rasamu dengan setiap tanda Tuhan. Jangan anggap remeh setiap didikan. Apalagi jika itu berasal dari Tuhan.

Berdoalah meminta hikmat dan pimpinan Tuhan. Untuk setiap langkah yang diambil. Perjalanan gelap sekalipun akan menjadi terang. Setiap rhema akan menjadi garam
Rasanya akan merasuk sampai kalbumu. Membersihkan setiap duri dalam daging.  

Bergetarlah dalam aliran murka Tuhan. Bergeraklah wahai laskar laskar Tuhan. Rasakan Amarah Tuhan yang murni dan suci. Energi Maha Besar memimpin kita menuju jalan Gog Magog. Itulah jalanku Kuda ke-4. Jalan Maut.

Meledaklah..meledaklah... Meledaklah.. Menyalalah Api Dian kalian. Bakarlah mereka sampai alam maut. Malaikat Abadon menemani kita. Malaikat Mikhael memimpin kita. Malaikat Gabriel dan Raphael berdoa untuk kita. Malaikat Gnome dan Golem menggoncangkan jalan didepan kita. Malaikat Uriel dan Kamael menjadi pandu kita.  Siapakah lawan kita?

Mengaumlah.. mengaumlah.. Mengaumlah. Wahai Barisan Barisan Singa Yehuda. BarisanNya Tuhan yang gagah perkasa. Tunjukkanlah kegeraman Balatentara Surga. Seperti kilat yang menyambar mereka dengan Dahsyat. Hancurlah.. hancurlah.. Wahai Babel kota yang mendatangkan murka Tuhan. Wahai Barisan Isebel yang tidak mau bertobat.

Bersorak sorailah..wahai Umat Tuhan. Hari Tuhan telah tiba. Saatnya para pendakwa kita menerima karmanya. Tenggelam sampai alam maut. Habis, lenyap dan hilang dalam kebinasaan. Takdir mereka sudah tertulis dalam pilihan mereka. Menjadi seterunya Tuhan.

Rabu, 18 Februari 2026

MenantikanMu

Ya Tuhan aku menantikanMu
Betapa rindunya diriku
Akan hadirMu
Di akhir perjalananku

Ya Tuhan aku menantikanMu 
Ingin rasanya menerima tandaMu
Untuk segera mengumpulkan 
Semua umatMu di 4; penjuru mata angin

Ya Tuhan aku menantikanMu
Apakah waktu terus berlanjut?
Berikanlah tandaMu
Apalagi yang harus kami siapkan 

Ya Tuhan aku menantikanMu 
Saat tanda Petir dan Pelangi' terlihat
Aku bersukacita karena itu 
Apalagi kami lihat 
Gerbang Mu sudah Terbuka 

Ya Tuhan aku menantikanMu 
Aku tetap setia pada panggilan ku
Menjalani jalanMu yang semakin sunyi
Sampai maut mendatangiku

Ya Tuhan aku menantikanMu 
Setiap bait yang dituliskan
Ku persembahkan untukMu
Sebagai pengingat perjalananku

Ya Tuhan aku menantikanMu 
Sampai bintang bintang berjatuhan 
Bulan dan Matahari kehilangan cahayanya
Hingga Seluruh Bumi mengeluarkan getarannya

Ya Tuhan aku menantikanMu 
Sampai keabadian terwujud atasku
Kehidupan kekal yang kuidamkan
Kembali kepadaMu di tempat kediamanMu

Ya Tuhan aku menantikanMu 
Berikanlah aku ketaatan dan kesabaran 
Menantikan kehendakMu Tergenapi
Terimalah doaku
Aku menantikanMu

Rabu, 11 Februari 2026

Pintu Gerbang Terbuka

Wahai Penjaga Pintu Gerbang.
Bangunlah...
Terimalah kunci kunci.
Dimensi lintasan jarak dan waktu.

Persiapkanlah Jalan bagi Tuhan
Hari Tuhan akan tiba
Jangan sampai kalian tertidur lagi.
Tetaplah setia menantikanNya.

Para Penjaga Pintu Gerbang.
Terimalah Tongkat dari Tuhan.
Karunia Khusus Penuntun Umat 
Terbebas dari segala Kegelapan.

Terbukalah Pintu Gerbang Hati Kalian
Agar Cahaya Tuhan.
Selalu bersinar dalam sanubari.
Mencerahkan setiap UmatNya Tuhan.

Janganlah takut dan gentar.
Kuasa Tuhan Maha Besar 
Tidak ada satupun dapat menyentuhmu
Tanpa seizin Tuhan 

Sucikanlah hati dan pikiran kita
Bersihkanlah setiap saat.
Ikutilah setiap didikan Tuhan 
Jangan sampai kita tersesat dan binasa

Para Penjaga Pintu Gerbang.
Terimalah cinta yang abadi.
Kasih yang murni dan menyembuhkan. 
Pembebasan dari segala jenis penawanan.

Para Penjaga Pintu Gerbang.
Bersukacitalah.
Hari Tuhan akan tiba.
Kita berada di tempat terutama
Pintu GerbangNya Tuhan
Pemilik Setiap Jiwa

Para Penjaga Pintu Gerbang.
Bangunlah..
Berjaga jagalah dan waspada.
Sambutlah hari Tuhan yang akan tiba.

Setia sampai AKHIR.
Setia sampai AKHIR.
Setia sampai AKHIR.
TETELESTAI. AMIN.

Selasa, 10 Februari 2026

Borderles Nation

Dear Team,

Pernahkah terpikir oleh kalian pola pengelolaan negara dan lintas negara yang sebelumnya kita kenal dengan metode invisible hand? Pahamkah konsekuensinya jika di periode pandemi dan saat ini itu berevolusi dengan cepat. Seiring dengan evolusi teknologi yang menembus segala batas. Apalagi saat situasi pandemi kita sudah terbiasa menggunakannya. Tinggal kita menunggu saja ketergantungan terhadap teknologi itu. Bukan hanya di ranah publik bahkan sampai ranah privat.

Pola struktur pemerintahan jika diterjemahkan oleh AI secara sistematis dan dibuat polanya secara otomatis. Bahkan bisa diperbaharui sesuai variabel terbaik berdasarkan pengalaman mesin tersebut menyelesaikan persoalan-persoalan. Justru bukan tidak mungkin mesin itu lebih baik dalam memimpin ketimbang manusia yang menjalankan pemerintahan. Apabila jika variabel lengkap nya disisi kualitas, integritas, efisiensi sudah tersusun rapi algoritmanya dengan berbagai teori yang terinstall otomatis setiap ada yang baru. Ketimbang manusia yang menjalankannya dengan proses belajar yang tidak sehebat mesin.. Maka kebiasaan tinggal klik malah menjadi kebutuhan manusia. Apabila itu diotomatisasi lagi variabel nya. Setiap aspek kehidupan manusia di sederhanakan dengan memencet tombol. Sampai dititik tertentu hal rutin itu bahkan akan bertransformasi lagi. Semakin canggih mesinnya maka kebiasaan otomatisasi membuat kita tidak perlu lagi ada tindakan klik. Sadarkah kita bahwa ini secara sederhana sudah diterapkan dalam sistem lalu lintas debgan evolusi lampu merah, cctv dan comand centernya? Apalagi ada yang terbaru AI tersebut bisa membuat visual seolah-olah manusia itu ada dan visualisasinya benar benar mirip dan lebih nyata ketimbang hologram. Selama ini kita menonton media tidak pernah mempertanyakan siaran yang kita tonton. Benarikah itu orang yang asli atau hanya AI? Sedangkan kualitas siaran saat ini sudah bisa meniru semua dimensi mirip dengan aslinya bahkan dimungkinkan lebih mirip agi. Bukankah teknologi VR mengarah kesitu? Bisa jadi suatu saat kita tidak sadar dipimpin oleh seseorang yang sudah mati. Karena di sisi validitas kita tidak berada di lokasi siaran orang itu. Jangan jangan kita tidak enak sadar orang tersebut adalah Presiden digital?

Pahamkah konsekuensinya? Inilah yang harus kita pikirkan bersama. Sebenarnya kalau kalian sadar atau tidak. Di era pandemi kemarin pondasi hal tersebut sudah terwujud. Apalagi negara online dan generasi online sudah terbentuk saat pandemi hingga sekarang. Perkembangan terbaru negara hebat seperti Amerika Serikat pun saat menyelesaikan masalah dengan Iran memilih cara Online untuk membahas perdamaian di Oman? Bukankah batas batas negara secara nyata sudah berevolusi dari kejadian itu? Bayangkan jika pola pemerintahan yang kita kenal baik secara teori, praktek bahkan pengalaman tersusun rapi dalam AI dan terotomatisasi secara berkala variabel nya.  Bahkan kenyataannya saat ini fase perkembangan AI sudah bisa berpikir, menjawab, menyelesaikan masalah dan bertindak. Apabila itu digabung dengan konsep metaverse dan uang digital yang sudah berjalan. Bayangkan negara apa yang akan terbentuk dan generasi seperti apa yang mengisi peradaban baru? Bukankah di sisi hasil justru itu lebih transformatif dan membuat kita semakin larut dengan kemudahan itu. Di sisi proses peran  manusia bukannya semakin dikurangi? Belum lagi sadarkah kalian algoritma otomatisasi itu jika dikumpulkan berdasarkan lintasan waktu dan terus menyempurnakan diri. Selain berpikir bukan tidak mungkin mesin itu bisa memiliki kehendak? Apakah generasi setelah kita malah akan dipimpin oleh Robot? Bukankah dimungkinkan untuk membuat algiritma seperti itu mengingat disaat ini kita sudah menciptakan algoritma AI yang bisa berpikir, berdialog, umpan balik, menjawab, bertindak sampai membuat keputusan. Tinggal menunggu waktu saja algoritma otomatisasi itu menjadi dinamis dalam diri robot itu.

Pertanyaan nya jika saat ini tidak serius mempersiapkan peradaban yang tercipta dengan segala konsekwensinya. Proses transformasi yang terbuka, efisien, dinamis, kreatif bahkan cepat dan tepat itu merasuk dalam generasi Pandemi yang akan mengisi siklus peradaban. Apalagi disisi hasil memiliki kualitas. Bukankah kebiasaan penggunaannya bisa membawa kita cenderung tergantung dengan hal itu dan pasti menentukan pilihan sadar kita. Padahal kesadaran itu terbentuk dari ketidaksadaran karena kecenderungan yang terjadi berulang karena kesimpelannya, kepraktisanya, kemudahanya bahkan kecanggihanya. Cermin perang, kejahatan, kelaparan, kemiskinan, hingga Pandemi pada generasi sebelumnya. Bisa jadi dijaman mereka dianggap sebagai kegagalan konsep negara dan jangan jangan kedepannya sudah tidak ada negara lagi jika segala bukti terkompilasi canggih dalam AI.  Apalagi jika penggunaannya bisa menjawab persoalan-persoalan itu secara nyata dan terbukti mengurangi perang, kejahatan, kelaparan, kemiskinan dan mempermudah akses sumber daya. Kecenderungannya bukankah pilihan nya versi negara tanpa batas (borderles Nation) dengan yurisdiksi yang lebih simpel seperti itu lebih kita pilih. Apalagi law dan order pun sekarang sudah diotomatisasi AI di negara maju. Belum lagi penggunaannya sudah viral di masa pandemi dan tingkat presisinya semakin meningkat. Bukan tidak mungkin menjadi dominan karena otomatisasinya membuat mesin tersebut semakin canggih setiap saat dan kehadirannya untuk menciptakan ketertiban umum nyata.

Perspektif law dan order mereka pasti akan berbeda dengan saat ini. Tentu saja itu akan mempengaruhi cara pandang mereka terhadap negara. Jika kalian benar benar peka. Pondasi hal tersebut sudah terjadi di era pandemi. Mari kita renungkan bersama sama keadaan ini. Firasat ku masa akan datang akan jadi peradaban yang berbeda dengan saat ini. Jangan sampai mereka hanyut dan membentuk peradaban Robot secara sadar. Bahkan karakter, viral, instan dan simpel dengan kemudahan akses online nya. Membuat mereka mengandalkan mesin dalam mengambil keputusan. Mereka malah lupa variabel manusianya. Manusia yang berkembang dinamis dalam pembelajaran nya dalam lintasan waktu hidupnya.

Belum lagi proses pandemi merubah pranata sosial kita. Transformasi segala teknologi itu justru lebih cepat dari proses transformasi manusianya. Jangan sampai ketika robot itu sudah bisa berpikir kemudian berkehendak. Maka robot itu memiliki karakter. Bahkan dalam perwujudan interaksi nya akan membentuk pola pikir peradaban saat ini dengan wadah negara. Dari borderles Nation menjadi negara tunggal bahkan bisa jadi tidak memandang perlu ada negara lagi. Jangan sampai kita lalai mempersiapkan diri. Sejujurnya tulisanku ini adalah kegelisahanku memandang waktu terkemudian. Mengingat saat ini borderles Nation sebenarnya sudah terwujud.pondasinya. Apalagi jika utopia kita dalam memandang komunitas adalah suatu komunitas yang damai, indah, nyaman, canggih, modern, ramah lingkungan, tertib dan tanpa kejahatan. Hal itu lebih dimungkinkan dengan keberadaan AI dalam wujud mesin atau robot. Konsep kepentingan nya bisa disusun dalam algoritma yang obyektif. Bahkan eksekusi nya lebih cepat dan tepat ketimbang menggunakan manusia yang cenderung tidak berintegritas dan terbukti terbiasa menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang. Itu fakta kan? Jika kita menganggap remeh ini. Jangan sampai kita saling menyalahkan jika di masa yang akan datang. Generasi kita lebih memilih menyerahkan kunci kunci negara kepada robot ketimbang kepada manusia. Titik kritisnya adalah setelah borderles Nation tercipta. Maka konsepsi negara akan dipertanyakan bentuknya. Di saat itulah Peradaban Baru akan terlihat wujudnya. Keadaan pendataran dunia (world is flat) sudah nyata. Praktek borderles Nation pun sudah terlihat. Tinggal melihat bukti arah peradaban apa yang tercipta. Sekarang bagaimana kita menyikapinya dan mempersiapkannya dengan tindakan nyata. Bahkan saat aku menulis ini konsep borderles Nation terus berkembang dengan kecepatan evokusinya melebihi kecepatan evolusiku. 

Aku hanya bisa berdoa: Ya Tuhan bimbing kami mempersiapkan generasi kami. Setidaknya aku sudah mulai bertindak dengan mengingatkan hal ini kepada kalian. Setia sampai Akhir.


Bad Bunny Superbowl

Terimakasih untuk karya indahnya. Orkestra versi kalian benar benar berkualitas. Bahkan penggambaran lintas generasi sampai regenerasi terlihat secara tersirat. Sangat indah dan berisi banyak pesan rahasia yang hanya diketahui mereka yang memahaminya. Sampai perwujudan Bhineka Tunggal Ika versi kalian di akhir acara dengan parade berbagai Bendera Negara. Benar benar membuat kita terharu.

Tidak sangka "Bangsa Lain" menerima pesanku dan langsung membuat versi mereka dengan Keren. Konfirmasi kesiapan setiap rombongan ternyata nyata. Kedalaman pesan dalam lagu "Titi Me Pregunto", "Yo Perreo Sola" dan "Die With Smile" benar benar menggugah rasa. Belum lagi penetapan plot yang mengalir dan alami merupakan gambaran orkestrasi yang menyatu dalam dansa, gerak, kegiatan, ruang, musik serta nyanyian terasa sebagai satu kesatuan yang utuh, kuat dan berkarakter.

Aku terima pesan indah kalian "The only thing more powerful than hate is love". Semoga cinta selalu menyertai kita.

Tetap Setia Sampai Akhir. Tulisan ini sebagai ilustrasi reflektif buat kita semua. Amin.

Saksi Yang Setia

Wahai 2 Pohon Zaitun dan 2 Kaki Dian.
Dengarkanlah kesaksianku.
Siapakah 2 saksi yang setia?
Jawabannya adalah Kita.

Siapakah Kita? 
Aku hanya mengetahui angka 144.000.
Tersembunyi Rapi Dalam Bilangan.
5 Gadis Bijaksana; dan  5 Gadis Yang Bodoh.

Termanifestasi Utuh
Dalam  Kemenangan Kuda Putih
Tercurahkan dalam Amarah Kuda Merah Padam
Terukur secara Benar dan Adil dalam Timbangan Kuda Hitam
Tersegel dalam alam Maut oleh Kuda Hijau, Kuning dan Biru

Dimateraikan dalam Firman-nya.
Ya dan Amin.
Dalam lintasan waktu. 
Alfa dan Omega.

Bergiranglah!
Wahai Saksi Yang Setia.
Kita menantikan Hari Tuhan.
Hari Termegah dan Termulia.
Sepanjang Sejarah Manusia.

Saat kita Bersukacita.
Menyambut Raja Segala Raja.
Saat dimana Semua Kitab Terbuka.
Hari Dimana Kita.
Menerima Mahkota Kehidupan.

Bergiranglah! 
Wahai Saksi Yang Setia.
Kita menantikan.
Semua Pintu Gerbang Terbuka. 

Setiap Kaum.
Dari Segala Suku dan Bangsa.
Yang Setia  dan Benar Menyambut DIA
Bersujud Memuliakan DIA.

Wahai Saksi Yang Setia.
Tetaplah Jaga Hati dan Pikiran Kita.
Kerjakanlah Panggilan Kita.
Sampai kita berkata Tetelestai. 
Dengan Sukacita di Hari Tuhan.
 
Hari Dimana.
Seluruh Ciptaan, Malaikat dan Manusia.
Sujud Menyembah DIA.
Ya dan Amin. 
Setia Dari Awal Sampai Akhir.

Senin, 09 Februari 2026

Cinta Apa Kabar?

Cinta.. Cinta.. Apa kabarmu?
Masih ingatkah kau cinta?
Ukiran cintamu di hatiku.
Begitu dalam indahnya.
Membuatku merasa seperti Raja.

Apakah kau juga menerima?
Lukisan cintaku di hatimu.
Seperti apakah warnanya?
Apakah cintaku seperti pelangi atau hologram?
Beraneka warna dalam dimensi cintamu.
Wahai Bidadari Aurora cintaku.

Ingatkah kau cinta?
Saat kau pecahkan gelas itu.
Riuhnya seperti lonceng.
Berdentang keras dalam asmara kita.
Mengiringi dansa kita dalam keheningan.

Cinta yang dulu kita rasa. 
Masih samakah getarannya?
Apakah lintasan waktu mengaburkannya?
Atau semakin bertumbuh dan berbuah lebat.
Menanti musim valentine untuk dituai.

Wahai cinta meskipun kita terpisah jarak.
Dengarkanlah senandung hatiku.
Dipenuhi emosi akan cinta.
Dalam kemegahan istana cinta.
Tempat berlabuhnya taman cinta kita di masa tua.

Wahai Cinta kenapa hatimu jadi berjelaga?
Seberapa kotorkah keraknya?
Sedangkan aku tidak menetapkan syarat.
Dalam memberikan cintaku. 
Kepadamu cinta sejatiku.

Apakah kamu sulit memahami cintaku?
Tidakkah kau dengar bisikanku?
Pelukan hangatku pada jiwamu 
Kecupan lembutku pada keningmu.
Detak jantungku pada batinmu.

Jujurlah padaku wahai cinta.
Hidungmu terlihat seperti Pinokio.
Kata katamu menyembunykan sesuatu.
Bahkan buburpun terasa seperti soto bagimu.
Apakah cintaku seperti makanan bagimu?

Jika hambar aku akan melepasmu.
Apalagi jika dirimu sudah menemukan cintamu.
Aku hanya ingin memastikan lagi.
Dentingan cintaku dalam ruang cintamu
Benarkah kau masih cinta?

Masihkah kau memahami irama kata kataku?
Ikut mengalun dalam petikan nada gitarmu
Atau suaranya sumbang dalam hatimu?
Meskipun terdengar merdu bagiku.
Benarkah masih cinta?

Maafkan aku yang masih merindukanmu.
Menantikan hadiratmu dipenuhi cintamu.
Sampai dirikupun resah menantikannya.
Lupakanlah jika kau anggap itu dongeng.
Setidaknya itulah kenangan terakhir.
Kiisah kesetiaan cintaku padamu.

Wahai cinta sebelum aku tiada.
Niscaya dalam kekekalan cinta.
Mumpung napas hidupku belum pergi.
Aku hanya hinggap sejenak untuk meninggalkan kesan dan bertanya:
Apa kabar cinta?






















Rabu, 04 Februari 2026

Pemurnian (sebuah refleksi)

Duhai adinda janganlah takut..Pahamilah setiap tanda..Lihatlah setiap rincian. Engkau akan paham semurni apa sebuah pesan.

Terkesankab engkau adinda? Atau hanya ingin paham rasa apa yang kubagikan. Atau dirimu hanya ingin sekedar mengetahui saja?

Apapun yang kau mau. Nikmatilah setiap sajianku. Apakah rasanya hanya sekedar pertanyaan atau pernyataan bahkan kenyataan?

Jika engkau sadar dan mulai bertanya-tanya. Sebenarnya berapakah takaran kemurnian itu? Bagiku adinda,  kadar emas 50 persen dan 100 persen sama saja.
Prosesnya tetap sama yaitu pemurnian
Perbedaan nya hanya disisi kualitas. Itupun masih tergantung rumus apa yang adinda gunakan. Cara alami, karbitan atau buatan?

Kami berproses menuju 100 persen. Namun jika adinda hanya puas sekedar 50 persen. Janganlah berkecil hati. Jalanilah dengan sukacita.  Masing masing kita memiliki kapasitas. Sesuai panggilan yang kita terima dari Tuhan 

Duhai adinda ketika kami belajar. Memurnikan diri kami. Baik di hadapan Tuhan maupun manusia. Kami tetap sadar kaki kami masih menginjak Bumi. Itulah inti pemurnian kami yang realistis.  Apakah adinda tertarik untuk dimurnikan?

Kalau kami memandang emas bukan hanya sekedar logam mulia..Tapi lebih dalam dari itu. Pemurnian seluruh hakikat diri kita sebagai manusia. Serta segala dimensi yang dihadapinya. Dalam realitas keseharian nya. Sampai esensinya paling tinggi yaitu Kemuliaan Tuhan.

Didikan sebagai pribadi dalam suatu masa. Maupun dalam interaksi dirinya terhadap sesama  serta lingkungannya.
Baik itu dalam dimensi pergaulan, keluarga bahkan sampai negara. Jika adinda paham takaran kemuliaannya.. Maka saat itulah kita memulai proses pemurnian diri kita.

Namun jika adinda sudah sampai dimensi Bumi, Alam dan Semesta. Pemurnian yang kita jalani tentu berbeda dan jauh lebih rawan serta menantang. Apalagi jika dasar pemurniannya bukan Tuhan.

Ingatlah adinda, proses pemurnian bukan untuk kita menjadi sesat.  Namun membawa kita semakin sadar akan keberadaan diri kita. Bahwa semakin kita dimurnikan.Maka semakin berbeda orientasi kita dalam memandang pencapaian. 

Semakin tinggi kemuliaan kita maka semakin rendah kita dihadapkan Kemuliaan Tuhan. Jangan sampai kita tinggi hati karena itu. Apalagi jika pencapaian kita sudah sampai Gedung Tertinggi di dunia. Apalagi sampai setinggi luar angkasa.

Sekarang mulailah bertanya wahai adinda. Kenapa kami menggunakan simbol emas dalam pemurnian kami? Apakah adinda hanya memandang emas itu sebagai logam mulia atau dimensi mulia dengan berbagai tahapan nya. Semurni apakah pemurnian kita dalam memahami itu? Apakah itu sekedar wujud, bentuk, dimensi atau sekedar ukuran waktu?

Hanya saat kita mau mengikuti proses pemurnian lah kita baru tau jawabannya. Itupun tidak sekaligus namun bertahap sesuai kesetiaan kita. Itulah sebabnya kami selalu memurnikan diri kami setiap saat. Sampai disetiap lintasan waktu. Kami tetap menguji diri kami dalam perjalanan menuju kemurnian takaran 100 persen. Sesuai masa dan zaman kami menjalani pemurnian.
 
Suatu Titian Murni adalah perjalanan kami menuju kemuliaan kami. Saat dimana
Kemuliaan Tuhan memancar dari kemuliaan kami. Karena kami sadar apa yang ada dalam diri kami. Hanyalah dititipkan Tuhan kepada kami. Sesuai perjalanannya yang ditanamkan dalam hati dan pikiran kami.

Itulah Pemurnian kami duhai adinda. Jika adinda sudah paham. Maka adinda tidak tertarik lagi dengan pemurnian kami. Adinda sudah mulai masuk dalam perjalanan pemurnian yang membawa adinda dalam dimensi baru sebuah kemuliaan. 

Pemurnian yang murni karena kesadaran adinda untuk menemukan titik tertinggi kemuliaan jati diri seorang manusia. Dalam kesadarannya menjalani kehidupannya melintasi segala dimensi waktu sampai akhir hayatnya di dunia.

Selamat memurnikan perjalanan kita wahai adinda. Sampai jumpa di titik temu akhir pemurnian kita sebagai manusia. Penyatuan kemuliaan kita dengan kemuliaan Tuhan yaitu Hari Termulia Tuhan sepanjang zaman. 

Itupun kalau adinda ada disana dan tidak menganggap remeh proses pemurnian adinda saat mengenal kami. Umat Nya yang sedang dimurnikan dengan kesetiaan sampai akhir. 

Sampai jumpa di Hari Tuhan jika adinda sudah sadar fase pemurnian ini. Tuhan memberkati.



Lost Generation?

Dear Team,
Masihkah kita ingat berapa lama pandemi terjadi? Dari tahun 2019 s.d. 2024 bahkan setelah nya sampai hari ini dampaknya masih terasa. Apakah itu hanya terkait keselamatan warga dan isu kesehatan saja?

Tentu saja efek domino pasti terjadi. Bukan hanya generasi yang sudah mapan dan sudah mandiri secara finansial saja yang terdampak. Tapi generasi setelahnya yaitu generasi yang kita kenal dengan label x, y, z, a, b, c. Mereka benar benar generasi yang perlu kita perhatikan. Sebab jika kita lalai generasi inilah yang berpotensi jadi lost Generation. Kalau sampai mereka tersesat. Bayangkan ketika generasi ini mengisi siklus peradaban apa yang akan terjadi?

Perhatikanlah perilaku mereka dan didiklah mereka. Karakter zaman pandemi mewarnai perkembangan mereka. Bayangkan generasi yang saat itu SMP sampai dengan kuliah. Mereka menempuh pendidikan mereka dengan interaksi yang berbeda dengan generasi kita. Dengan pola kompetisi dan akses pengembangan diri yang cenderung lebih introvert ketimbang ekstrovert. Bahkan dibayangi ketakutan akan pandemi. Tentu itu akan berpengaruh pada mental mereka bukan?Kualitas generasi apa yang tercipta ketika pola belajar nya lebih mengandalkan monitor dan teknologi bahkan dimensi pergaulan mereka lintas negara dengan dunia metaversenya?Jika butuh sesuatu tinggal instal aplikasi yang menyediakan berbagai kebutuhan. Bahkan hanya menggunakan handphone mereka bisa merasakan dunia dalam genggaman mereka. Pola interaksi yang online tentu berbeda dengan pola interaksi kita yang dibentuk dalam berbagai lapisan sosial masyarakat yang langsung dan kaya akan sentuhan sosial. Rasa instan mereka jauh lebih tinggi dari kita. Bahkan ego mereka jangan jangan lebih tinggi. Sikap tepo seliro, etika dan tenggang rasa bahkan sopan santun mereka berbeda dengan kita. Apalagi mereka justru lebih menikmati pola buzer yang asal asalan dalam berbahasa. Serta pola tik tok yang disisi kedalaman edukasi hanya mengandalkan pencitraan media? Bukankah kita generasi yang sadar betul pentingnya proses ketimbang hasil? Sedangkan mereka memahami proses hanya sebatas istilah viral? Kalau ingin mencari jawaban tinggal buka chat gpt dan AI lainnya yang memberikan jawaban sangat lengkao. Beda dengan kita yang meskipun menggunakan google. Kita masih perlu menyusun nya bahkan masih terdorong untuk mencari referensi untuk validasi sumber penelusuran. Belum lagi hiburan game dan tontonan online yang mudah di akses. Tentu akan berpengaruh terhadap mindset mereka. Kalau kita bayangkan dengan kadar instan seperti itu saat mereka mengisi posisi mengantikan posisi generasi sebelumnya dalam siklus peradaban. Karakter apa yang mereka bawa dan tipe peradaban seperti apa yang akan mereka bangun? Sedangkan saat zaman setelah kita terwujud. Dunia sudah dipenuhi dengan robot. Apakah mereka akan menjadi generasi robot?

Hal ini penting untuk direnungkan bersama dan dicarikan solusinya. Karena secanggih apapun ciptaan yang tercipta. Apabila penggunanya tidak memahami arti pemanfaatan yang berkarakter. Maka mereka akan tergantung sepenuhnya pada ciptaan canggih itu. Bukankah seharusnya ciptaan canggih itu yang bergantung sama kita? Untuk generasi saat ini mudah mendapatkan perspektif seperti itu. Karena kita sudah dididik zaman yang benar benar menghargai proses berkelanjutan. Bagaimana dengan mereka?

Jika kita benar benar lalai maka generasi pandemi itu akan menjadi generasi yang Terhilang dan menjadi beban peradaban. Apalagi untuk konteks rombongan kita yang memiliki visi Generasi Emas. Jika hanya berorientasi pada hasil disisi kemajuan zamannya dan bukan pada kemajuan generasi nya dengan penekanan pengembangan karakter. Maka generasi pandemi ini akan kehilangan jati dirinya ditengah tengah robot yang bertambah populasi nya setiap tahun. Jangan jangan di generasi mereka justru robotlah yang mengisi peradaban dan mereka malah menjadi korban peradaban. Seperti itukah yang kita mau?

Harapanku kita yang memiliki panggilan menyiapkan Generasi Emas. Berdoalah agar kita bisa menyiapkan pribadi pribadi yang mampu membentuk dan mengisi zaman. Serta bukan sekedar generasi yang jadi korban zaman dan sekedar numpang hidup. 

Sebelum terlambat. Segera tuntun mereka agar tidak jadi generasi Terhilang. 

Salam Setia Sampai Akhir.

Selasa, 03 Februari 2026

Menatap Masa Depan

Setiap takdir ada jalannya. Setiap waktu ada zamannya. Setiap langkah pasti ada konsekuensinya. Berbahagialah mereka yang berani meraihnya.

Setiap insan memiliki kebijaksanaan. Setiap hati memiliki cahaya. Sekecil apapun itu pengetahuan,  ketrampilan, keahlian dan pengalamamu. Lakukanlah sesuai impianmu. Menjadi karya yang menggetarkan dirimu dan menggerakkan keadaan diluar kesadaranmu.

Tidak ada kata berhenti untuk belajar. Tidak ada kata menyerah terhadap keadaan. Saat napas hidup masih berhembus memenuhi tubuhmu. Awal dan akhir hanyalah penyemangat.

Masa depan adalah harapan. Masa kini untuk masa depan. Jalani setiap tantangan. Itulah yang mendorongmu untuk memiliki tujuan. Kekuatan yang membuatmu gigih meraihnya. Meskipun hidupmu menjadi taruhannya.

Siasat hanyalah cara. Tapi prosesnyalah yang menentukan wujudnya. Engkau akan tau jika tujuanmu sudah tepat. Saat wujud itu perlahan terbentuk. 

Meskipun sedikit demi sedikit. Jagalah semangatmu. Agar kamu tidak lekas lelah dan menyerah. Sampai harapanmu menjadi nyata. Terwujud dari ketiadaan menjadi sesuatu yang ada.

Isilah pikiranmu agar engkau tidak sembarangan berproses. Latihlah panca inderamu agar batinmu semakin peka. Didiklah hatimu dengan ketabahan. Agar hasil capaianmu semakin berkarakter dan berkualitas.

Cerahkanlah hatimu dengan cahaya Tuhan yang tidak ada batasnya. Disitulah batas batas ketakutanmu menjadi iman yang melampaui segala batas. Agar jalanmu tidak tersesat oleh ego Manusia yang terbatas.

Bimbinglah aku ya Tuhan untuk menatap masa depan dengan iman. Terpujilah Tuhan pemilik masa depanku sampai akhir hayatku. Masa depanku bersama Tuhan untuk menggenapi KehendakNya atas hidupku. Amin.






Karakteristik

Setiap tema memiliki makna. Setiap makna memiliki tema. Baik tema atau makna harus memiliki Rhema. Sampai Rhema melahirkan wujud dan bentuk beraneka ragam. Menjadii kepuasan tidak terjelaskan. Suatu versi otentik dalam suatu masa.

Untuk apa kita memiliki pengetahuan Jika tidak berdampak. Keahlian dan ketrampilan akan sia sia. Sebuah rutinitas yang membosankan. Apalagi jika itu hanya untuk pencitraan saja. Metode dan cara apapun menjadi tidak tepat guna tanpa tujuan yang jelas. Pengalaman kita akan kosong,hambar bahkan miskin akan rasa. 

Disitulah fungsi kebijaksanaan. Membuat setiap perbuatan lebih berisi. Inspirasi dan kreasi jadi lebih berbobot. Setiap bibit dan bebet menjadi lebih terukur. Menjadi satu kesatuan gerak yang berirama. Tarian dan nyanyian semesta yang menggema menembus segala dimensi.

Setiap tindakan yang sistematis dan spontan. Maupun tindakan rutin sekalipun.  Akan menuntun kita pada pencapaian terbaik. Apalagi bila ditambah daya juang dan kebulatan tekad.

Gerakan perorangan maupun kelompok jadi lebih bermakna. Memiliki daya dobrak cipta dan karya yang melintasi ruang dan waktu. Keindahan yang menuntun setiap generasi dan kemegahan yang membuat kagum setiap insan.

Pondasi yang dibangun dengan tekad seperti itu. Akan mengisi setiap ruang manusia. Baik itu panca indera, pikiran dan hati terdalam setiap pribadi. Bahkan sampai jangkauan ruang negara, alam  dan semesta sesuai perjalanannya. Apalagi jika itu kita persembahkan kepada Tuhan sebagai ibadah kita yang sejati.

Disitulah kita membangun peradaban yang berbeda. Jadilah Kehendak Tuhan di bumi seperti di surga. Karakter yang kuat dan tak tergoyahkan. Melintasi segala zaman. Mewarnai perjalanan saya, kita dan mereka. Menjadi catatan yang tidak terlupakan. Oleh setiap generasi yang menantikan tuntunan cahaya kekekalan cipta, rasa dan karsa. Sepanjang sejarah umat manusia.






Minggu, 01 Februari 2026

Masihkah kita Setia?

"Setiap lapisan kesadaran memiliki memori.Barang siapa yang sadar terlepas dari ilusi.Tidak ada yang tersembunyi ketika itu terbuka.Tetaplah rahasia jika itu masih tertutup. Jangan mudah tertipu oleh sesuatu yang tampak. Sampai engkau tau ada apa di baliknya. Semakin peka panca indera. Tidaklah sulit membedakan kepalsuan. Setiap tipuan hanyalah setitik debu yang mudah dilihat. Kecuali kita mengabaikannya karena menolak untuk percaya."

Dear Team,
Proses reguler kita sudah berjalan. Akupun juga mulai melakukan kegiatan reguler ku. Ingatlah pesanku diatas. Jangan sampai kita lalai dan melupakan panggilan kita. Semakin hari kita harus semakin paham makna "Setia Sampai Akhir." Kecuali kita memilih untuk mengabaikan panggilan kita karena merasa waktu masih berlanjut. Ingatlah ketika waktu Tuhan sudah dimulai dan tidak bisa ditunda lagi. Siapakah yang bisa menghentikan itu?

Tidak ada seorangpun termasuk aku bisa mengabaikannya. Tugasku tetap mengingatkan kalian untuk tetap setia. Jika aku juga lalai mengingatkan maka ketidaksetiaan kalian jadi tanggung jawab ku juga. Namun jika kalian mengabaikan peringatanku. Aku sudah menekankan ini terus menerus. Bahkan untuk dirikupun. Setiap saat aku terus melatihnya.

Jujur saat semua seolah-olah berjalan seperti biasanya. Kita bisa lupa akan setiap keadaan yang pernah kita lihat, dengar dan rasakan secara langsung. Bahkan parahnya kita menganggap itu sebagai mimpi bahkan ilusi. Padahal kejadian itu benar benar nyata. 

Kita sama sama rindu dikumpulkan di suatu tempat oleh Tuhan. Aku pun sama. Sampai waktuNya tiba kita tetap menjalani keseharian kita sesuai panggilan kita. Jangan sampai kita terhitung sebagai golongan yang akan binasa. Jangan lupa mereka ingin menunda kiamat bahkan membatalkannya. Sedangkan kita menantikan hari Tuhan. Dua terminologi yang berbeda. Tapi jika lalai malah menganggap itu serupa tapi tak sama.

Perhatikanlah lebih seksama saat keseharian kita menjadi reguler lagi. Latih kepekaan kita. Apalagi kita masih diizinkan Tuhan belajar dari Guru Malaikat kita. Pertanyaannya jika waktu masih terus berlanjut. Masihkah kita setia dan menanti sampai kapan waktu terus berlanjut? Ini pertanyaan buat diriku dan kalian semua.

Masihkah kita Setia?

Doaku kita tetap Setia Sampai Akhir. Tetap Setia sampai Tetelestai. Amin.

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri