Selasa, 10 Februari 2026

Saksi Yang Setia

Wahai 2 Pohon Zaitun dan 2 Kaki Dian.
Dengarkanlah kesaksianku.
Siapakah 2 saksi yang setia?
Jawabannya adalah Kita.

Siapakah Kita? 
Aku hanya mengetahui angka 144.000.
Tersembunyi Rapi Dalam Bilangan.
5 Gadis Bijaksana; dan  5 Gadis Yang Bodoh.

Termanifestasi Utuh
Dalam  Kemenangan Kuda Putih
Tercurahkan dalam Amarah Kuda Merah Padam
Terukur secara Benar dan Adil dalam Timbangan Kuda Hitam
Tersegel dalam alam Maut oleh Kuda Hijau, Kuning dan Biru

Dimateraikan dalam Firman-nya.
Ya dan Amin.
Dalam lintasan waktu. 
Alfa dan Omega.

Bergiranglah!
Wahai Saksi Yang Setia.
Kita menantikan Hari Tuhan.
Hari Termegah dan Termulia.
Sepanjang Sejarah Manusia.

Saat kita Bersukacita.
Menyambut Raja Segala Raja.
Saat dimana Semua Kitab Terbuka.
Hari Dimana Kita.
Menerima Mahkota Kehidupan.

Bergiranglah! 
Wahai Saksi Yang Setia.
Kita menantikan.
Semua Pintu Gerbang Terbuka. 

Setiap Kaum.
Dari Segala Suku dan Bangsa.
Yang Setia  dan Benar Menyambut DIA
Bersujud Memuliakan DIA.

Wahai Saksi Yang Setia.
Tetaplah Jaga Hati dan Pikiran Kita.
Kerjakanlah Panggilan Kita.
Sampai kita berkata Tetelestai. 
Dengan Sukacita di Hari Tuhan.
 
Hari Dimana.
Seluruh Ciptaan, Malaikat dan Manusia.
Sujud Menyembah DIA.
Ya dan Amin. 
Setia Dari Awal Sampai Akhir.

Tidak ada komentar:

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri