Selasa, 10 Februari 2026

Borderles Nation

Dear Team,

Pernahkah terpikir oleh kalian pola pengelolaan negara dan lintas negara yang sebelumnya kita kenal dengan metode invisible hand? Pahamkah konsekuensinya jika di periode pandemi dan saat ini itu berevolusi dengan cepat. Seiring dengan evolusi teknologi yang menembus segala batas. Apalagi saat situasi pandemi kita sudah terbiasa menggunakannya. Tinggal kita menunggu saja ketergantungan terhadap teknologi itu. Bukan hanya di ranah publik bahkan sampai ranah privat.

Pola struktur pemerintahan jika diterjemahkan oleh AI secara sistematis dan dibuat polanya secara otomatis. Bahkan bisa diperbaharui sesuai variabel terbaik berdasarkan pengalaman mesin tersebut menyelesaikan persoalan-persoalan. Justru bukan tidak mungkin mesin itu lebih baik dalam memimpin ketimbang manusia yang menjalankan pemerintahan. Apabila jika variabel lengkap nya disisi kualitas, integritas, efisiensi sudah tersusun rapi algoritmanya dengan berbagai teori yang terinstall otomatis setiap ada yang baru. Ketimbang manusia yang menjalankannya dengan proses belajar yang tidak sehebat mesin.. Maka kebiasaan tinggal klik malah menjadi kebutuhan manusia. Apabila itu diotomatisasi lagi variabel nya. Setiap aspek kehidupan manusia di sederhanakan dengan memencet tombol. Sampai dititik tertentu hal rutin itu bahkan akan bertransformasi lagi. Semakin canggih mesinnya maka kebiasaan otomatisasi membuat kita tidak perlu lagi ada tindakan klik. Sadarkah kita bahwa ini secara sederhana sudah diterapkan dalam sistem lalu lintas debgan evolusi lampu merah, cctv dan comand centernya? Apalagi ada yang terbaru AI tersebut bisa membuat visual seolah-olah manusia itu ada dan visualisasinya benar benar mirip dan lebih nyata ketimbang hologram. Selama ini kita menonton media tidak pernah mempertanyakan siaran yang kita tonton. Benarikah itu orang yang asli atau hanya AI? Sedangkan kualitas siaran saat ini sudah bisa meniru semua dimensi mirip dengan aslinya bahkan dimungkinkan lebih mirip agi. Bukankah teknologi VR mengarah kesitu? Bisa jadi suatu saat kita tidak sadar dipimpin oleh seseorang yang sudah mati. Karena di sisi validitas kita tidak berada di lokasi siaran orang itu. Jangan jangan kita tidak enak sadar orang tersebut adalah Presiden digital?

Pahamkah konsekuensinya? Inilah yang harus kita pikirkan bersama. Sebenarnya kalau kalian sadar atau tidak. Di era pandemi kemarin pondasi hal tersebut sudah terwujud. Apalagi negara online dan generasi online sudah terbentuk saat pandemi hingga sekarang. Perkembangan terbaru negara hebat seperti Amerika Serikat pun saat menyelesaikan masalah dengan Iran memilih cara Online untuk membahas perdamaian di Oman? Bukankah batas batas negara secara nyata sudah berevolusi dari kejadian itu? Bayangkan jika pola pemerintahan yang kita kenal baik secara teori, praktek bahkan pengalaman tersusun rapi dalam AI dan terotomatisasi secara berkala variabel nya.  Bahkan kenyataannya saat ini fase perkembangan AI sudah bisa berpikir, menjawab, menyelesaikan masalah dan bertindak. Apabila itu digabung dengan konsep metaverse dan uang digital yang sudah berjalan. Bayangkan negara apa yang akan terbentuk dan generasi seperti apa yang mengisi peradaban baru? Bukankah di sisi hasil justru itu lebih transformatif dan membuat kita semakin larut dengan kemudahan itu. Di sisi proses peran  manusia bukannya semakin dikurangi? Belum lagi sadarkah kalian algoritma otomatisasi itu jika dikumpulkan berdasarkan lintasan waktu dan terus menyempurnakan diri. Selain berpikir bukan tidak mungkin mesin itu bisa memiliki kehendak? Apakah generasi setelah kita malah akan dipimpin oleh Robot? Bukankah dimungkinkan untuk membuat algiritma seperti itu mengingat disaat ini kita sudah menciptakan algoritma AI yang bisa berpikir, berdialog, umpan balik, menjawab, bertindak sampai membuat keputusan. Tinggal menunggu waktu saja algoritma otomatisasi itu menjadi dinamis dalam diri robot itu.

Pertanyaan nya jika saat ini tidak serius mempersiapkan peradaban yang tercipta dengan segala konsekwensinya. Proses transformasi yang terbuka, efisien, dinamis, kreatif bahkan cepat dan tepat itu merasuk dalam generasi Pandemi yang akan mengisi siklus peradaban. Apalagi disisi hasil memiliki kualitas. Bukankah kebiasaan penggunaannya bisa membawa kita cenderung tergantung dengan hal itu dan pasti menentukan pilihan sadar kita. Padahal kesadaran itu terbentuk dari ketidaksadaran karena kecenderungan yang terjadi berulang karena kesimpelannya, kepraktisanya, kemudahanya bahkan kecanggihanya. Cermin perang, kejahatan, kelaparan, kemiskinan, hingga Pandemi pada generasi sebelumnya. Bisa jadi dijaman mereka dianggap sebagai kegagalan konsep negara dan jangan jangan kedepannya sudah tidak ada negara lagi jika segala bukti terkompilasi canggih dalam AI.  Apalagi jika penggunaannya bisa menjawab persoalan-persoalan itu secara nyata dan terbukti mengurangi perang, kejahatan, kelaparan, kemiskinan dan mempermudah akses sumber daya. Kecenderungannya bukankah pilihan nya versi negara tanpa batas (borderles Nation) dengan yurisdiksi yang lebih simpel seperti itu lebih kita pilih. Apalagi law dan order pun sekarang sudah diotomatisasi AI di negara maju. Belum lagi penggunaannya sudah viral di masa pandemi dan tingkat presisinya semakin meningkat. Bukan tidak mungkin menjadi dominan karena otomatisasinya membuat mesin tersebut semakin canggih setiap saat dan kehadirannya untuk menciptakan ketertiban umum nyata.

Perspektif law dan order mereka pasti akan berbeda dengan saat ini. Tentu saja itu akan mempengaruhi cara pandang mereka terhadap negara. Jika kalian benar benar peka. Pondasi hal tersebut sudah terjadi di era pandemi. Mari kita renungkan bersama sama keadaan ini. Firasat ku masa akan datang akan jadi peradaban yang berbeda dengan saat ini. Jangan sampai mereka hanyut dan membentuk peradaban Robot secara sadar. Bahkan karakter, viral, instan dan simpel dengan kemudahan akses online nya. Membuat mereka mengandalkan mesin dalam mengambil keputusan. Mereka malah lupa variabel manusianya. Manusia yang berkembang dinamis dalam pembelajaran nya dalam lintasan waktu hidupnya.

Belum lagi proses pandemi merubah pranata sosial kita. Transformasi segala teknologi itu justru lebih cepat dari proses transformasi manusianya. Jangan sampai ketika robot itu sudah bisa berpikir kemudian berkehendak. Maka robot itu memiliki karakter. Bahkan dalam perwujudan interaksi nya akan membentuk pola pikir peradaban saat ini dengan wadah negara. Dari borderles Nation menjadi negara tunggal bahkan bisa jadi tidak memandang perlu ada negara lagi. Jangan sampai kita lalai mempersiapkan diri. Sejujurnya tulisanku ini adalah kegelisahanku memandang waktu terkemudian. Mengingat saat ini borderles Nation sebenarnya sudah terwujud.pondasinya. Apalagi jika utopia kita dalam memandang komunitas adalah suatu komunitas yang damai, indah, nyaman, canggih, modern, ramah lingkungan, tertib dan tanpa kejahatan. Hal itu lebih dimungkinkan dengan keberadaan AI dalam wujud mesin atau robot. Konsep kepentingan nya bisa disusun dalam algoritma yang obyektif. Bahkan eksekusi nya lebih cepat dan tepat ketimbang menggunakan manusia yang cenderung tidak berintegritas dan terbukti terbiasa menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang. Itu fakta kan? Jika kita menganggap remeh ini. Jangan sampai kita saling menyalahkan jika di masa yang akan datang. Generasi kita lebih memilih menyerahkan kunci kunci negara kepada robot ketimbang kepada manusia. Titik kritisnya adalah setelah borderles Nation tercipta. Maka konsepsi negara akan dipertanyakan bentuknya. Di saat itulah Peradaban Baru akan terlihat wujudnya. Keadaan pendataran dunia (world is flat) sudah nyata. Praktek borderles Nation pun sudah terlihat. Tinggal melihat bukti arah peradaban apa yang tercipta. Sekarang bagaimana kita menyikapinya dan mempersiapkannya dengan tindakan nyata. Bahkan saat aku menulis ini konsep borderles Nation terus berkembang dengan kecepatan evokusinya melebihi kecepatan evolusiku. 

Aku hanya bisa berdoa: Ya Tuhan bimbing kami mempersiapkan generasi kami. Setidaknya aku sudah mulai bertindak dengan mengingatkan hal ini kepada kalian. Setia sampai Akhir.


Tidak ada komentar:

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri