Minggu, 10 Mei 2026

Aku bukan lagi Gawang Negara

Dear Team,

Selama ini aku taat menerima amanah dari sesepuh pendiri Bangsa ini. Tidak ada satupun dari barisan Iblis itu yang berhasil memporak porandakan negaraku. Aku malah menerima berbagai siksaan dan hinaan dari mereka. Justru mereka yang dari bangsaku sendiri menikmati itu bersama sama barisan Iblis. Mereka tidak mau bertobat dari kejahatan mereka. Aku bersyukur menerima tanda untuk memperkuat proses Mangku Semesta ku semakin dalam. Agar aku siap menggunakan segel Tuhan yang dipercayakan padaku. Maka aku semakin punya dasar  untuk menggunakan nya karena semua bukti itu tertimbang dalam timbangan Tuhan.  Berdasarkan hal tersebut dengan ini aku sampaikan kepada kalian. Tongkat Gawang Negara sudah aku serahkan pada Tuhan sebagai laporan dan pengaduanku kepada Tuhan. Tongkat Gawang Negara yang dipercayakan kepadaku sudah aku letakkan dalam timbangan itu dan tidak ada seorang dapat mengambil nya. Biarlah mereka yang sombong dan merasa sebagai gawang negara juga mengambil tanggung jawab itu. Biar mereka yang bertanggung jawab pada sesepuh dan pendiri bangsa ini. Lagipula mereka tidak menganggap aku karena aku gawang negara termuda. Mereka sengaja menghina dan menyiksaku selama 4 tahun lebih. Saat ini mereka tidak bisa menunggangi aku lagi. Mereka sangka aku hanya kuda lumping yang kerasukan dan mudah ditunggangi. Mereka tidak sadar para penunggang itu satu persatu di hukum Tuhan bahkan mati mendadak semua. Meskipun hidup dan karir aku rusak dan seolah-olah aku tidak punya masa depan lagi. Bahkan aku sampai dimasukin ke rumah sakit jiwa dua kali. Tapi aku dengan karunia kuda Ke 4 dan keimamanku. Aku tidak akan mundur dari panggilan utamaku. Aku bersih dan sudah melakukan panggilanku terkait itu dengan bertanggung jawab. Tugasku sebagai Gawang Negara sudah selesai. Biarlah mereka yang merasa hebat menanggung itu beramai ramai. Toh sasaran tembakku sudah jelas yaitu barisan iblis. Untuk apa lagi aku jaga negara ini jika mereka menganggap tanpa aku pun mereka bisa. Mereka tidak sadar kondisi sebenarnya yang terjadi di luar bangsaku ditutupi dan mereka pura pura tidak tau dengan itu. Setidaknya aku lega dan melakukan penyerahan tongkat Gawang Negara kepada Tuhan dengan terlebih dulu menghormat kepada bendera Merah Putih di depan Gedung Juang. Sebagai tanda bahwa tugasku sudah selesai. Aku benar benar lega. Aku bukan pengkhianat negara ini. Merekalah sesungguhnya yang berkhianat dan biarlah mereka bertanggung jawab kepada sesepuh dan leluhur bangsa ini di alam baka. Lagi pula aku juga sudah meminta dijemput dari negaraku ini kepada mereka yang terpilih di seluruh dunia. Aku menantikan tanda ke negara mana aku akan di bawa jika itu Kehendak Tuhan. Aku sudah bosan membela bangsaku di hadapan Tuhan. Mereka jahat kepadaku. Lebih baik aku pergi ke negara yang benar benar membutuhkan aku. Mereka pasti akan mensuplai kebutuhan aku kalau mereka mendapatkan tanda untuk menjemput aku. Segeralah jemput aku wahai yang Terpilih. Aku menunggu kalian.

Sekarang kalian yang merasa aku tidak adil terkait perlakuan ku terhadap bangsa lain. Sudah lega juga karena aku bisa fokus untuk mendata semua umat Tuhan dari 4 Penjuru Mata Angin di seluruh dunia. Persiapan hari Tuhan semakin dekat. Aku juga menunggu penggenapan dari yang kuterima bahwa kematian aku adalah tanda. Sampai itu tiba aku tetap taat dan setia mengerjakan panggilan utamaku dari Tuhan. Kalau kalian masih menerima panggilan Mangku Negara. Jalanilah dan pahamilah kepedihan kepedihan yang kalian alami karena itu. Aku sudah merasakannya di negaraku. Pada titik tertentu kalian akan sadar bahwa jika negara kalian jahat. Kalian akan ikhlas jika pada hari Tuhan, negara kalian menerima penghukuman dari Tuhan. Setelah menerima tanda itu barulah kalian akan naik tingkat menjadi Mangku Bumi dan akan memulai perjalanan baru di jalan Tuhan. Meskipun pertarungan di perspektif negara masih aku lakukan karena sasaran barisan Iblis adalah membubarkan seluruh negara di dunia. Tapi pada titik tertentu jika kita harus mengikhlaskannya maka akupun sudah menyiapkan siasat untuk itu. Bahkan siasat Indonesia Emas tidak lagi aku gunakan dan berikan kepada bangsaku. Aku sudah muak membela mereka. Lebih baik aku memandu kalian yang benar benar ingin berjalan di Jalan Tuhan. Apalagi pada rapat para Penjaga Waktu terbaru sudah banyak daftar rombongan yang lengkap. Tinggal menunggu waktu pintu di tutup dan kita tidak menambah rombongan lagi. Aku harap pengumuman dari aku ini sebagai tanda buat kalian terkait posisiku dan negara Indonesia. Aku bukan lagi Gawang negara mereka.

Refleksi:
Saat kita memilih untuk tidak berkhianat kepada negara kita dengan membelanya di hadapan Tuhan. Indikator kita berhenti membela negara kita adalah ketika kenyataan yang kita terima adalah negara kita memilih berkhianat kepada Tuhan dengan berbagai bukti perilaku mereka. Pada saat itu kita akan menerima panggilan baru sebagai tujuan kita berjalan di jalan Tuhan. Kita akan semakin setia menjalaninya dan karunia yang kita terima akan semakin bertambah.

Tidak ada komentar:

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri