Minggu, 04 Januari 2026

Pesan Durna (Sebuah Refleksi)

Wahai Para Ksatria yang gagah perkasa. Bukan suatu kebetulan aku dibangunkan di zaman ini. Ada Maksud Tuhan untuk menyampaikan sesuatu kepada kalian.

Aku kembali merenungkan permusuhan yang berakhir dengan pertempuran antara Pandawa dan Kurawa yang merupakan muridku juga. Jika aku melihatnya dalam keadaanku saat ini di zaman ini. Hal yang sama juga terjadi dengan wujud peristiwa dan keadaan yang berbeda namun esensinya tetap sama yaitu saling membinasakan. Aku jadi teringat lagi masa lalu dan ingin kembali ke zaman itu meskipun sudah lampau. Aku jadi teringat dampak yang disebabkan oleh pertempuran itu. Banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Bahkan muridku Pandawa sampai mengingkari ajaran Dharma hanya sekedar untuk menang perang menggunakan segala muslihat untuk membunuhku Guru mereka sendiri. Sadarkah mereka kenapa aku masih mendampingi Kurawa dipertempuran itu? Apakah mereka tidak menakar siapakah yang aku didik dalam pertempuran itu? Jelas aku tetap mengajarkan kepada murid murid kesayanganku baik Kurawa maupun Pandawa. Aku bersyukur setelah pertempuran itu muridku Pandawa kembali mengejar Dharma dan melalui perjalanan Moksa. Meskipun aku tau mereka sedih karena telah membunuh Gurunya sendiri dalam pertempuran itu dan membinasakan Kurawa rekan satu perguruan mereka yaitu perguruan Durna. Aku bersyukur mereka mendapatkan pencerahan setelah itu. Harusnya aku sebagai Guru melerai mereka kan di masa lampau? Kenapa aku malah ikut kaum Kurawa? Aku sadar itu tidak hanya menyiksa batin murid muridku tapi juga batin prajurit dan rakyat yang ikut kedua kubu. Taukah kalian pergolakan batinku saat itu? Apakah ada yang tau? Aku yakin hanya Tuhan yang tau dan aku taat menjalani Jalan Dharmaku. Bahkan dampak kehancurannya luar biasa kan? Mengertilah kalian tugas seorang Guru adalah tetap mendampingi muridnya yang paling bodoh sampai memahami makna Dharma. Meskipun dalam kebodohan itu aku tetap ikut perang. Akupun ikut menjalankan Dharmaku dan tetap setia mendampingi Kurawa sampai akhir. Meskipun konsekuensinya sudah aku ketahui yaitu kematianku.

Pada akhirnya kita sama sama tau Pandawa akhirnya melakukan perjalanan menuju Nirwana dalam proses pertobatan mereka dan akhirnya mereka menemukan jalan Dharma mereka. Hal ini aku tekankan juga kepada kalian semua di zaman ini. Belajarlah dari Pandawa dan juga Kurawa untuk memahami keadaan kalian saat ini. Apalagi jika benar kaum Pandawa dan Kurawa juga dibangunkan di zaman ini. Ingatlah baik baik detail peristiwa di masa lampau antara kalian. Sebagai renungan solusi yang harus terwujud agar tidak terjadi kejadian yang sama yaitu kehancuran umat manusia dan kehancuran alam semesta 

Aku sebagai Guru kalian mengingatkan kalian untuk Bijaksana. Kalian sudah menjalani Dharma di masa lampau dan juga di masa kini. Harusnya kalian paham sebenarnya hakekat diri kalian adalah Ksatria. Rendah hatilah kalian dan berdamailah. Sembuhkan semua rasa dendam di masa lampau. Ini kesempatan baik untuk kita untuk saling mengampuni. Aku Durna sebagai Guru kalian juga meminta maaf atas segala hal yang terjadi pada kalian dan aku sebagai Guru di masa lampau malah memilih seolah olah berpihak pada Kurawa. Maafkan aku, saat itu begitulah perjalanan Dharmaku. Namun jalan Dharmaku di masa kini adalah untuk mengingatkan kalian untuk berdamai dan konsekuensinya apabila kalian masih bermusuhan yaitu Pertumpahan Darah. Itu pasti akan mendatangkan murka Tuhan. Rendahkanlah ego kalian agar kalian sebagai muridku sama sama menang di jalan Dharma. Itu juga jadi kemenangan Dharma bagi umat dan kemenangan Dharma bagiku juga Guru kalian. Kita sama sama ingin menyelesaikan karma ini kan? Mari kita sesuaikan frekuensi Dharma kita lagi dan sama sama bersatu untuk menyebarkan kedamaian bagi semua umat. Kedamaian bagi alam semesta dan kedamaian itu mendatangkan kasih karunia Tuhan. Aku sayang kepada kalian Pandawa dan Kurawa. Bersatulah kalian dan bertobatlah. Ada pertempuran lainnya yang menanti kita. Sebelum itu terjadi kita harus menyelesaikan jalan Dharma kita ini untuk berdamai dan menyelesaikan karma kita di masa lampau. Semuanya sampai selesai dan lunas. Karma kita saat ini itu dan sampai Setia Sampai Akhir. JalanNya sudah kita ketahui di masa kini yaitu Jalan Tetelestai.

Tuhan memberkati kalian wahai Ksatria kesayanganku baik Pandawa dan Kurawa.


Tidak ada komentar:

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri