Rabu, 03 Juni 2026

Peradaban

Dear Team,

Ingatkah kalian bahwa sebelum pandemi. Situasi dan keadaan yang memaksa seluruh dunia untuk di beri tanda ditangan secara massal, beramai-ramai dan tidak ada yang bisa menghindar adalah mustahil. Ternyata pada saat pandemi hal tersebut benar benar terjadi kan? Selain itu ajaibnya ada negara negara malah menyiapkan karpet merah untuk itu. Bahkan dengan sigap menyiapkan aplikasi untuk memantaunya? Padahal Kitab Suci sudah memberi peringatan tentang itu dan mereka yang selama ini dengan seriusnya membahas itu. Malah di era pandemi dengan polosnya memberi tanda di tangan. Hanya segelintir orang yang melakukan itu karena terpaksa. Sisanya merelakan diri mereka untuk dipasang tanda itu. Kita termasuk barisan yang beruntung karena saat itu terjadi kita menerima panggilan Tuhan dan menerima tanda di dahi kita. Belakangan kita baru tau arti tanda di dahi itu adalah dalam naungan Malaikat atas seizin Tuhan. Baru setelahnya kita melihat, mendengar, dan merasakan penyertaan Tuhan yang dahsyat dan barisan Iblis itu dikalahkan satu persatu bahkan ada yang memilih kembali kepada Tuhan dan menjadi malaikat lagi. Selain itu kita juga mengetahui ada materai, segel dan sangkakala yang dilepas satu persatu. Mereka yang diluar barisan terpilih banyak yang tidak tau itu. Sedangkan kita sadar itu sudah dan sedang terjadi kan? Artinya kita sudah masuk ke fase waktu Tuhan mulai dihitung.

Namun sesuai dengan tugasku aku juga perlu menyiapkan kalian menghadapi kenyataan apabila keadaan Pandemi yang dipercepat sebelumnya dan proses memasuki fase transisi membawa kita ke fase terkemudian. Meskipun kita juga masih belum paham masa satu masa, dua masa dan setengah masa apakah sudah mau berakhir atau tidak. Potensi kita untuk menjalani kehidupan seperti biasa masih memungkinkan kan? Perbedaannya masing masing kita masih memegang tanda di dahi bahkan semakin sepadan dengan Malaikat yang menemani kalian. Kenyataannya saat ini ada 5 teritori yang dipasang segel dengan tongkat pengukur yang dipercayakan padaku ada dalam posisi tidak akan diinjak injak oleh barisan yang tidak mengenal Tuhan. Artinya selama kalian ada di lokasi itu. Kesadaran kalian akan Tuhan. Akan tetap terjaga apabila hati dan pikiran kalian benar benar Tuhan.Tapi apakah kita yang berada diluar teritori itu tidak mendapatkan perlindungan yang sama? Jawabanku tetap sama meskipun godaannya lebih kuat ketimbang teritori yang di pasang segel. Di dua teritori itu peluang tersesat nya tetap sama karena itu tergantung manusia yang menerima tanda itu. Oleh karena itu aku tetap mengingatkan kalian. Untuk bersiap menyambut peradaban baru dengan taat dan setia. Apabila waktu terkemudian yang terjadi.

Keresahan utamaku adalah ini karena di umurku yang 42 tahun ini apabila waktu terkemudian terjadi maka aku harus menyiapkan keluarga ku untuk menghadapi peradaban yang akan terjadi. Apalagi masih memungkinkan barisan iblis itu masih merasa ini hanya sekedar perang teknologi. Padahal kenyataannya mereka berperang melawan kuasa Tuhan yang menyertai kita. Jika peradaban baru tercipta maka belief system, cara hidup, cara bersikap, cara menjalani keseharian akan berubah juga mengikuti peradaban yang dominan tercipta. Barisan kita tetap konsisten mempertahankan negara. Tapi mereka mencoba untuk menyesatkan itu juga termasuk opsi untuk membubarkan negara. Di fase itupun kita sudah dipersiapkan untuk menghadapinya dengan konsep berbeda kan? Pertanyaannya selama proses itu apakah memungkinkan hari Tuhan tergenapi? Kemungkinan nya tetap ada dan posisi yang sama juga berpeluang terjadi terhadap waktu terkemudian. Aku realistis soal ini karena soal waktu dan kehendak Tuhan hanya Tuhan yang mengetahui. Saat ini aku masih bisa memberikan pesan pesan kepada kalian melalui berbagai tulisanku. Bagaimana apabila aku berhenti menulis? Tentu kita masih tesarhubung dalam roh dan kebenaran Tuhan. Aku memang sengaja mempublish ini sebagai pesan kepada barisan Iblis itu juga. Apapun keadaan nya aku tidak akan mau bersekutu dengan iblis. Kecuali mereka mau ditimbang dan memilih kembali kepada Tuhan. Aku berharap kalian tetap berproses sesuai panggilan kalian. Demikian juga sebagai pengingat buat diriku sendiri. Meskipun jumlah kita tersisa 144.000 orang pun. Aku tetap memilih setia sampai akhir. Tulisan ini sebagai penanda kepada kita semua untuk menyiapkan diri menghadapi peradaban baru. Jika Kehendak Tuhan kita memasuki fase terkemudian. Meskipun di sisi pribadiku tetap menantiikan tanda kapan segel yang dipercayakan padaku untuk melepas segel. Aku harap kalian harus siap kapanpun untuk menghadapi hari Tuhan dan berjaga jaga agar jangan sampai terjatuh dan tergoda oleh barisan iblis itu. Situasi yang kita hadapi sudah jelas bahwa siapapun diatas muka bumi ini ingin kegiatan reguler berjalan lagi dan tidak mau ambil pusing lagi akan hari Tuhan. Sedangkan kita yang dapat tanda di dahi semua ingin segera hari Tuhan dipercepat. Mari kita saksikan sama sama kemungkinan mana yang terjadi. Aku harap kalian tetap peka melihat tanda zaman sesuai apa yang diajarkan kepada kita ini oleh Tuhan di era Pandemi dan setelahnya.

Aku berharap tidak ada satupun dari kalian tersesat dan berharap makin banyak manusia yang memilih bertobat dan bergabung dengan barisan Terpilih. Meskipun barisan iblis itu mengolok-olok kita. Kita akan menerima bukti pada waktu Tuhan terjadi mereka akan tertimpa oleh olok olok mereka dan tidak akan ada kesempatan buat mereka lagi untuk bertobat. Sejatinya merekalah barisan yang durhaka kepada Tuhan.

Refleksi:
Peradaban hanyalah rekaan manusia sedangkan Hari Tuhan sudah tertulis di kitab suci dan akan tergenapi satu persatu sesuai apa yang sudah kita lihat, dengar dan rasakan. Jika peradaban yang terjadi sudut pandang kita tentang itu adalah hari Tuhan. Jangan takut dan gentar karena Tuhan selalu menemani kita. Amin. Setia sampai akhir.

Tidak ada komentar:

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri