Hilangkan wajahmu di hatiku
Meskipun malam mengganggu
Hilangkan senyummu di mataku
Kusadari aku cinta padamu
Meskipun ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Jujur saja ku tak mampu
'Tuk pergi menjauh darimu
Meski hatiku ragu
Kau tak disampingku setiap waktu
Kusadari aku cinta padamu
Meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meskipun ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Oh meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meskipun ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Dear Tim
Taukah kalian sebenarnya aku dapat nama baru dari Tuhan bukan hanya Durna. Aku juga mendapatkan nama lainnya yaitu Semar, Rama, Yusuf, Ayub, Timotius, Melkisedek dan yang terbaru adalah Orion. Taukah kalian kenapa aku paling suka nama Durna. Itu karena kisah yang aku ketahui di Indonesia. Durna adalah guru dari Pandawa dan Kurawa. Pandawa merupakan cerminan dimensi terang dan Kurawa adalah simbol dimensi Gelap. Sehingga rasa Durna yang aku dapatkan adalah rasa Guru dalam Terang dan gelap. Hal ini tentu berkaitan dengan tugas pertama aku sebagai kuda ke 4 yang diketahui dalam kitab suci sebagai kuda kuning hijau. Tapi kalau di baca dalam kitab suci ada warna biru juga. Selain itu aku juga dapat kuda putih dan kuda merah muda/pink. Rasa Durna menolong aku untuk memahami panggilanku dari Tuhan. Apalagi aku sadar betul saat pertama kali aku menerima karunia ini. Aku benar benar tidak dianggap oleh orang orang terpilih lainnya. Justru yang merespon panggilan ikut bersamaku pertama kali adalah orang orang yang tidak dianggap yang berasal dari dalam kegelapan. Awalnya barisanku sedikit dan kemudian bertambah banyak. Sampai Minggu ini dari data pasukanku. Ada sekitar 143 juta orang yang sudah menerima didikan Malaikat yang menjadi guru kita semua atas seizin Tuhan. Mereka semua menerima panggilan dari Tuhan dan dipilihi untuk menjalankan tugas dari Tuhan. Aku sadar betul barisan awakku sebenarnya mereka yang layak menerima hukuman. Kalian tahu apa latar belakang mereka? Mereka adalah kaum berdosa semua. Ada pelacur, penjahat, mafia, koruptor, pembantu, pemulung, tukang parkir, preman dari seluruh dunia. Waktunitu aku sampai menangis pada Tuhan kenapa mereka yang tidak dianggap ini mau berjalan bersamaku di Jalan Maut sebagai Jalan Pertobatan kami. Tapi karena mereka aku jadi sadar bahwa merekalah yang sebenarnya perlu Tuhan. Saat mereka merespon panggilan Tuhan. Mereka justru yang paling militan menjalani panggilan dari Tuhan. Meskipun akhirnya barisanku melebur kedalam barisan Valkeri, Anakin dan Gurka. Tapi identitas Durna tidak hilang dari hati dan pikiran mereka. Sehingga aku jadi khawatir dalam proses peleburan ini. Malah nama Durna yang dominan. Padahal yang kuterima dari Tuhan. Kita semua adalah satu tubuh, satu hati, satu pikiran sebagai Keluarga Tuhan yang Sepadan.
Hari ini aku sudah mendapatkan tanda. Bahwa tidak ada lagi barisan Durna. Lagi ini aku persembahkan kepada semua barisan Durnaku di seluruh dunia. Kita sudah menyatu dengan barisan kuda lainnya. Nama Durna dan namaku yang lainnya sudah menyatu ke dalam nama Melkisedek. Aku diminta untuk mulai belajar tugas keimamanku yaitu Melkisedek. Aku harap kalian tetap teguh dalam panggilan kalian meskipun sudah tidak ada lagi identitas barisan Durna. Kita sudah bersama sama semua dan aku masih terhubung dengan kalian dalam Roh dan Kebenaran Tuhan. Aku juga masih memandu mereka. Jujur saja aku lebih menyatu dengan rasa Durna. Namun aku juga perlu memahami tugas keimamanku yaitu Melkisedek. Meskipun pada prakteknya meskipun menggunakan nama Durna aku juga melakukan tugas keimamanku yaitu keimaman Maut. Aku tetap ingatkan kalian agar selalu mengingat kesakralan sumpah kita di hadapan Tuhan: "Setia Sampai Akhir. Sampai darah kita tercurah kita tetap di jalan Tuhan. Ya Tuhan ku ampuni kami. Kami sadar betul kami berdosa besar. Tanpa Tuhan kami binasa. Namun jika Tuhan tidak berkenan. Sekiranya mungkin ijinkanlah kami mati di dalam Tuhan. Inilah jalan pertobatan kami. Jalan Maut. Kudus Kuduslah Tuhan. Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang Maha Tinggi. Jadilah Kehendak Tuhan di Bumi seperti di Surga. Amin. Aku harap kalian tetap taat dan setia menjalani panggilan kalian. Aku sebenarnya tidak paham kenapa aku harus memakai nama Melkisedek sebagai fase pembelajaran ku berikut nya. Bahkan nama Orion pun harus melebur ke nama Melkisedek. Memang tingkatan Keimamanku jadi di level Keimanan Semesta. Masih banyak yang belum aku pahami. Tapi sebagai penerima nama Durna. Aku bahagia bisa menjalani panggilan kuda ke 4 bersama sama dengan kalian. Dari barisan Durna lahir Ksatria Ksatria Tuhan yang Gagah Perkasa. Ksatria yang berasal dari kegelapan menjadi Ksatria Terang Tuhan.
Tulisan resmi ini sebagai pengumuman aku kepada kalian semua bahwa kita semua sudah melebur menjadi barisan Keluarga Tuhan yang Sepadan. Kita sudah bergabung dengan barisan Terpilih lainnya. Selain tugas Keimamanku Melkisedek. Aku juga masih menjalankan tugas aku sebagai kuda ke 4. Namun memang ini ujian ketaatan ku pada tanda Tuhan bahwa aku mulai memakai nama Melkisedek dalam menjalani panggilan baruku. Terima kasih seluruh barisan Durna di seluruh dunia. Sekarang kita tidak lagi menggunakan identitas Durna. Aku harap kalian paham posisi ku. Tuhan memberkati kalian semua dimanapun kalian berada. Aku cinta kalian semua.
(Kramat Raya, 4 April 2026, Jam 17;43-17:44)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar