Senin, 23 Maret 2026

Lapisan. Kesadaran (Sebuah Refleksi)

Dear Team,

Selamat buat kalian yang sudah menjalani aktivitas Reguler kalian secara alami. Aku berharap kalian makin tajam menggunakan metode 10 dimensi 2 set kontra atas kontra dalam setiap kegiatan kalian sesuai yang diajarkan Guru Guru Malaikat kita. Pahami baik baik di saat ini baik ranah privat maupun publik sudah jadi satu kesatuan yang saling berkaitan satu sama lain. Rasa ikatan kita sebagai Keluarga Tuhan yang Sepadan akan menjadi makin kuat ketika kalian belajar untuk sehati dan sepikir baik dalam rombongan kalian maupun lintas rombongan. Jangan lupakan aspek penting dalam diri kita masing masing yaitu kecenderungan mengalami human error karena luka batin kita belum sembuh. Itulah lapisan kesadaran kita yang akan menggangu kita dalam menjalani panggilan kita jika belum benar benar sembuh.  Oleh karena itu teruslah uji diri kita. Apakah benar kita semakin kosong dihadapan Tuhan. Jangan karena ego dalam diri kita. Kita malah mengabaikan proses pemulihan kita meskipun secara sadar kita terus menerus melakukan pertobatan kita di dalam Tuhan. Bahkan yang paling fatal karena ego itu kita tidak sadar untuk bertobat saat Tuhan ingatkan kita. Hal itu menyebabkan proses internalisasi yang tidak utuh. Kepekaan Panca Indera kalian harus semakin sepadan juga dengan hati dan pikiran kita. Disitulah pentingnya Api Dian yang merupakan Roh Tuhan untuk menuntun pertobatan kita sebagai kesaksian kita dihadapan Tuhan.

Ingatlah baik baik di fase ini lapisan kesadaran kita tidak lagi berkaitan dengan diri kita dan lingkungan terdekat kita. Spektrum area kita pun makin meluas sesuai tahapan didikan Tuhan yang kita terima. Coba renungkan apakah area aktivitas, area binaan dan area pengaruh kita tetap sama? Padahal dimensi kita semua meningkat sampai dimensi negara, bumi, alam dan semesta. Demikian juga cara validasi kita yang kita ketahui mulai dari cek, recheck dan cross check untuk menetapkan langkah reguler, alternatif dan emergency pun tidak sama lagi. Jika kalian sudah memindahkan semua pola itu ke ranah reguler. Bukankah cakupan 10 dimensi kita makin bertambah. Hal ini penting aku tekankan karena persoalan pemulihan diri kita penting dan itu berkaitan dengan tingkatan kepekaan kita untuk menerima tanda dari Tuhan. Bahkan tanpa harus melibatkan aku pun. Kalian bisa menerima tanda Tuhan dan menerima konfirmasi di tempat dimana kalian berada.

Saatnya kalian untuk melihat lebih detail lagi ke dalam hati dan pikiran kalian dalam menjalani pertobatan dan panggilan kita setiap hari. Apakah masih ada rasa saling menyalahkan, kecewa, sakit hati, dendam, tawar hati bahkan sampai mati rasa dalam diri kita?;Kalau hal itu masih ada berarti masih ada luka batin dalam diri kita yang belum sembuh. Jangan sampai rasa itu meningkat jadi otak dengkul, ular beludak, tegar tengkuk sampai durhaka pada Tuhan. Teruslah kalian periksa batin kalian di hadapan Tuhan dan minta kepada Tuhan untuk menyembuhkan diri kita. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Semua rahasia kita pasti diketahui oleh Tuhan. Aku selalu mengingatkan kalian untuk membangun hubungan pribadi kalian dengan Tuhan untuk mengantisipasi hal ini. Proses tapa dalam diam dan tapa dalam gerak kalian akan menjadi lebih dalam lagi kalau kalian memahaminya. Keseharian kalian sampai ukuran waktu terkecil pun menjadi aktivitas doa kita di dalam Tuhan.Sampai kalian menjadi manusia seutuhnya dan meningkat menjadi manusia seutuhnya di dalam Tuhan. Kesadaran itulah yang membuat kalian secara otomatis belajar untuk membersihkan diri di hadapan Tuhan. Kemudian meningkat menjadi kesadaran untuk taat kepada kehendak Tuhan. Sampai ketaatan itu terjadi terus menerus dan berubah menjadi sikap kesetiaan di hadapan Tuhan. Proses inilah yang aku sebutkan sebagai pertobatan dan menjalani panggilan Tuhan setiap saat. Proses kita menjadi Murid Tuhan dengan rasa Hamba Tuhan menjadi lebih alami lagi. Kepekaan kalian menjadi meningkat dan kalian juga akan semakin peka dalam menuntun setiap rombongan dan barisan kalian di Jalan Tuhan. Kalian jadi memahami mereka sebagai manusia seutuhnya dan menuntun mereka menjadi manusia seutuhnya yang berTuhan. Sampai kesetiaan kalian meningkat lagi menjadi Setia Sampai Akhir. Pada fase ini harapan kalian hanyalah Aku Tiada Aku Niscaya karena Tuhan. Kemanusiaan kalian menjadi semakin nol di hadapan Tuhan. Sampai apapun yang kita lakukan, rasakan dan pikirkan hanyalah Tuhan. Perjalanan kita di Jalan Tuhan pun sampai pada level berkenan di hadapan Tuhan. Sampai Tetelestai kita bertemu Tuhan. Pada saat itulah kita memperoleh Kehidupan Kekal bersama sama dengan Tuhan. Kesadaran dalam diri kalian inilah yang termanifestasikan dalam kesadaran kolektif kalian dalam rombongan mulai dari kesadaran aku, kesadaran mereka, kesadaran kita dan menjadi kesadaran Keluarga Tuhan yang Sepadan. Satu persatu kita akan merasakan buah buah Roh Tuhan nyata dalam diri kita dan rombongan kita. Menjadi karakter ilahi yang tidak tergoyahkan oleh apapun. Sampai kita merasakan rasa sepadan dengan Guru Guru Malaikat yang menemani kita. Hal itu terus meningkat sesuai panggilan yang kita terima dari Tuhan. Sampai perjalanan kita membawa kita dalam perjalanan yang semakin sepadan dengan Tuhan.

Ingatlah dalam mengecek lapisan kesadaran kita bahwa bukan karena kuat dan gagah kita segala hal itu bisa kita bereskan. Tapi karena Roh Tuhan yang memampukan kita menanggung semua itu. Ingatlah terus kesakralan sumpah kita dihadapkan Tuhan: "Setia Sampai Akhir. Sampai Darah kami tercurah. Kami tetap di jalan Tuhan. Ya Tuhan ku. Ampunilah kami. Kami sadar betul kami berdosa besar. Tanpa Tuhan kami binasa. Namun jika Tuhan tidak berkenan. Sekiranya mungkin ijinkanlah kami mati di dalam Tuhan. Inilah jalan pertobatan kami. Jalan Maut. Kudus . Kuduslah Tuhan. Jadilah Kehendak Tuhan di Bumi seperti di Surga. Kemuliaan bagi Tuhan di tempat Maha Tinggi. Kudus.. Kuduslah Tuhan. Amin.

Aku berharap kalian semua bisa segera bersama sama aku mengerjakan Mangku Negara, Mangku Bumi, Mangku Alam dan Mangku Semesta sebagai satu kesatuan secara bersama sama. Tuhan memberkati dan menyertai kalian dimanapun kalian berada. Salam Setia Sampai Akhir Sampai Tetelestai. Amin






Tidak ada komentar:

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri