Minggu, 22 Februari 2026

Belajarlah Rasa Malaikat

Dear Pembelajar,  
Inilah rasa yang kurasakan dari MahaGuru-MahaGuru Malaikat ku. Ya Tuhan izinkan aku membagikan kesaksian tentang mereka sebagai komitmen untuk menjadi murid Tuhan, MahaGuru Segala MahaGuru.

Belajarlah dari rasa Malaikat Uriel dan Kamael. Untuk mendapatkan dasar pengetahuan yang baik dan jahat. Batas batas rasa penasaran yang membawa kita ke dalam dosa atau keselamatan. Kesadaran akan batas batas kemanusiaan kita. Sampai sejauh mana ketrampilan dan keahlian kita menjadi pengalaman bermanfaat. Suatu saripati yang membawa kita pada kebijaksanaan pribadi, komunitas, negara, bumi, alam, semesta bahkan kebijaksanaan dari Tuhan. Sampai kita mengalamii perjalanan interdemensi sampai dimensiNya Tuhan. Lompatan kuantum menembus berbagai lapisan cahaya. Sampai cahaya Tuhan menerangi akal dan pikiran kita. Hikmat dari Tuhan yang melampaui segala akal. Cahaya Tuhan yang bersinar dalam Pikiran yang memiliki iman bahkan sampai iman kita memiliki pikiran Tuhan yaitu Hikmat dalam Terang Tuhan yang suci dan murni.

Belajarlah dari Malaikat Gabriel untuk memahami kebenaran Tuhan dalam terang. Kebenaran yang memerdekakan kita. Kebenaran yang menuntun kita berjalan dalam Roh dan Kebenaran. Kebenaran yang menuntun kita menjadi Terang Dunia. Bergerak dengan dasar iman. Meskipun sekecil biji sesawipun kita bisa memindahkan gunung. Keyakinan yang memiliki kuasa. Keyakinan yang bisa menembus segala batas. Keyakinan yang membuat kita dekat dengan Tuhan. Keyakinan yang membuat kita menjadi Anak Anak Terang. Anak anak Terang yang memiliki buah roh kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Anak anak Terang yang memahami makna Firman Tuhan sebagai Kebenaran Tertinggi dan Terutama. Firman Tuhan yang seperti pedang bermata dua. Ya dan Amin.

Belajarlah dari Malaikat Raphael mengenai kebersihan diri. Pertobatan yang sejati. Pertobatan yang menyelamatkan kita dari kegelapan menuntun kita pada terang. Suatu perjalanan dari proses pemurnian hati. Merespon panggilan Tuhan. Hingga menyadari segala kesalahan dan dosa yang ada di dalam diri kita. Kemudian belajar taat dan menyangkal diri. Jatuh bangun dalam ketaatan sampai benar benar taat tanpa paksaan. Saat kita sadar bahwa hanya kasih karunia Tuhan saja yang bisa memampukan kita. Sampai kita paham makna kesetiaan. Kesetiaan pada waktu dan kehendak Tuhan. Kesetiaan pada Jalan Tuhan. Kesetiaan untuk selalu ingin berada dekat Tuhan. Kesadaran bahwa kebersihan diri sebagai bait suci Tuhan. Membawa kita pada pemurnian diri sepenuhnya. Sampai pikiran kita dilembutkan Tuhan, kemudian dibersihkan dan benar benar dimurnikan dalam kesatuan hati, pikiran dan panca indera. Saat itu Kekudusan Tuhan membuat kita sadar untuk menguduskan diri tiap saat. Mengalami kesembuhan diri seutuhnya. Sampai kesembuhan itu memancar keluar dari diri kita. Suatu penyembahan yang sejati kepada Tuhan. Ibadah dalam roh dan kebenaran Tuhan dalam hadirat kita yang dipenuhi hadirat Tuhan. Sampai kesetiaan kita memampukan kita untuk menyadari Hadirat Tuhan, Waktu Tuhan dan Kehendak Tuhan tiap saat. Batasan batasan kesetiaan sampai akhir kita dibenarkan di hari Tuhan. 

Belajarlah dari Malaikat Michael, Maha Guru Balatentara Surga. Keperkasaan Tuhan. Murka Tuhan yang murni, Kebulatan Tekad dan Keteguhan. Karunia termegah yang membawa kita dalam perjalanan keteguhan hati. Menjalani panggilan Tuhan dalam diri kita. Kepekaan untuk taat melakukan kehendak Tuhan saat waktu Tuhan tiba. Sampai kita pun bisa merelakan hal hal yang kita sayangi binasa. Apabila hal itu ternyata mendatangkan murka Tuhan. Mengetahui kapan untuk berjalan dalam kesendirian dan tetap dalam keramaian serta menggunakan Kuasa Tuhan di segala keadaan. Ketulusan hati melakukan panggilan dengan kepolosan yang berkarakter ilahi. Kepemimpinan yang melayani dengan wibawa ilahi. Dengan penyertaan kuasa Tuhan yang melebihi dan menembus segala kuasa. Sampai Setan, Iblis, hantu dengan segala sebutannya tunduk dan takluk dalam KeMaha Kuasaan Tuhan. Sampai lahir Keyakinan tidak tergoyahkan dalam diri kita. Bahwa kita adalah laskar laskar Nya Tuhan. Barisan Tuhan yang tidak takut apapun. Bahkan sampai maut mendatangi tetap teguh dalam iman dan pengharapan. Bahwa kebenaran dan keadilan Tuhan tidak tergoyahkan. Suatu keyakinan Jika Tuhan di pihak kita siapa lawan kita?

Belajarlah dari Malaikat Gnome dan Golem. Mahaguru Penjaga Bumi.Kepekaan untuk merasakan segala energi. Membedakan mana yang dari Tuhan dan bukan dari Tuhan. Kedamaian dan ketenangan dalam keheningan.Sampai kita bisa merasakan keselarasan, keharmonisan, keteraturan segala ciptaan Tuhan. Sampai dimensi Bumi, alam dan semesta bahkan sampai dimensi yang tidak terbahasakan oleh bahasa manusia.

Belajarlah dari Malaikat Abadon. Mahaguru Alam Maut. Belajarlah tentang kesetiaan menanti hari Tuhan dari awal, terkemudian dan akhir. Suatu sikap penyembahan terdalam. Sampai alam maut pun aku tetap meninggikan nama Tuhan. Bahkan alam maut pun sampai tergoncang. Merasakan Hadirat Tuhan turun ke alam maut. Saat kita yang terpilih memuliakan nama Tuhan. Sampai di alam maut.

Tidak ada komentar:

Selamat Datang Pembaca

Sebagaimana judulnya, Blog ini akan dipenuhi oleh tulisan-tulisan saya baik berupa puisi, artikel, renungan ataupun celotehan-celotahan yang merupakan refleksi dari keseharian saya dalam menjalani kehidupan.

Banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil setiap makna dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Sangat sayang jika hal tersebut hilang dan tidak terekam dengan baik dalam bentuk catatan-catatan yang tujuannya adalah untuk refleksi diri.Hal ini sangat bermanfaat untuk pertumbuhan diri dan kekayaan jiwa dalam membentuk kebijaksanaan diri memandang kehidupan sebagai sesuatu yang mengagumkan.

Itulah sebabnya Blog ini diberikan nama Jurnal Refleksi diri.Tempat dimana hati berbicara dalam bentuk kata.Kata-kata yang hidup karena tercipta oleh kehidupan dan untuk kehidupan. Dimana kehidupan terbingkai dalam keabadian dan kekekalan oleh sebuah kata.Untuk itulah engkau diletakkan disini wahai kata.Bersemayamlah dalam kesempurnaanmu.Kesempurnaan seorang manusia yang memahami hakekat dirinya yaitu untuk berkarya selama hidupnya.

Salam refleksi

Jukaider Istunta Gembira Napitupulu
Pengelola Jurnal Refleksi Diri